sa'at shalat

Senin, 09 Juli 2012


KISAH IBRAHIM DAN SARAH DENGAN RAJA YANG DHALIM
kisahislam.net
Kisah ini menjelaskan bagaimana Allah menjaga Sarah, isteri Ibrahim, ketika seorang thaghut(musuh Allah) hendak menodai kesuciannya dan merampas kehormatannya. Ibrahim berlindung kepada Allah, berdoa, dan shalat kepada-Nya, dan Sarah berdoa memohon perlindungan Allah. Maka Allah menjadikan si fajir(pelaku maksiat) tidak berdaya dan menggagalkan makarnya (berupa siksaan) di lehernya. Allah menjaga Ibrahim dan isterinya dan Allah mampu untuk menjaga wali-wali-Nya dan membelenggu musuh-musuh-Nya di setiap waktu dan generasi. 
Teks Hadis
Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah yang berkata, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Ibrahim berhijrah bersama Sarah. Keduanya masuk ke sebuah desa yang terdapat seorang raja atau seorang yang sombong. Dikatakan kepadanya, ‘Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik.’ Maka dia bertanya kepada Ibrahim, ‘Wahai Ibrahim, siapa wanita yang bersamamu?’ Ibrahim menjawab, ‘Saudara perempuanku.’ Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, ‘Jangan mendustakan ucapanku, aku telah mengatakan kepada mereka kalau kamu adalah saudaraku. Demi Allah, di bumi ini tidak ada orang yang beriman selain diriku dan dirimu.’ Maka Ibrahim mengirim Sarah kepadanya. Dia bangkit kepada Sarah. Sarah bangkit berwudlu dan shalat. Sarah  berkata, ‘Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan menjaga kehormatanku kecuali kepada suamiku, maka janganlah Engkau membiarkan orang kafir menguasaiku.’ Maka nafas raja sombong itu menyempit dan dia hampir tercekik sampai dia memukulkan kakinya ke bumi.”
Al-A’raj berkata bahwa Abu Salamah bin Abdur Rahman berkata di mana Abu Hurairah berkata tentang Sarah yang berkata, “Ya Allah, jika orang ini mati, maka mereka menuduhku membunuhnya.” Maka dia terbebas, kemudian dia bangkit lagi kepada Sarah. Sarah berwudlu dan shalat. Sarah berkata, “Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu, dan menjaga kehormatanku kecuali kepada suamiku maka janganlah Engkau membiarkan orang kafir menguasaiku.” Maka nafasnya menyempit dan dia hampir tercekik sampai dia memukulkan kakinya ke bumi.
Abu Salamah berkata bahwa Abu Hurairah berkata, “Maka Sarah berkata, ‘Ya Allah, jika orang ini mati, maka mereka menuduhku pembunuhnya.’ Maka dia terbebas untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. Kemudian dia berkata, ‘Demi Allah, kalian tidak mengirimkan kepadaku kecuali setan. Pulangkan dia kepada Ibrahim dan berilah dia Ajar (maksudnya adalah Hajar, ibu Ismail). Sarah pun pulang kepada Ibrahim. Sarah berkata, ‘Apakah kamu merasa bahwa Allah telah menghinakan orang kafir dan memberi seorang hamba sahaya.”‘
Dalam riwayat lain dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah berkata, “Ibrahim tidak berdusta kecuali tiga kali. Dua di antaranya karena Allah, yaitu ucapan Ibrahim, ‘Sesungguhnya aku sakit.’ (Ash-Shaffat: 89); dan ucapan Ibrahim,‘Sebenarnya patung besar itulah pelakunya.‘” (Al-Anbiya: 63). Abu Hurairah melanjutkan, “Suatu hari ketika Ibrahim dan Sarah berjalan keduanya melewati seorang penguasa lalim. Dikatakan kepadanya, ‘Di sini ada seorang laki-laki bersama seorang wanita cantik.’ Maka Ibrahim ditanya tentangnya, ‘Siapa wanita itu?’ Ibrahim menjawab, ‘Saudara perempuanku.’ Lalu Ibrahim mendatangi Sarah dan berkata kepadanya, ‘Wahai Sarah di muka bumi ini tidak ada orang mukmin selain diriku dan dirimu. Orang itu bertanya kepadaku tentang dirimu, dan aku katakan kepadanya, bahwa kamu adalah saudaraku. Maka jangan mendustakanku.’ Lalu Ibrahim mengutus Sarah kepadanya. Ketika Sarah masuk kepadanya, dia menjulurkan tangannya hendak menjamahnya. Tapi dia tercekik dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, aku tidak mencelakaimu.’ Lalu Sarah berdoa kepada Allah, maka dia pun terbebas. Kemudian ketika dia hendak menjamahnya untuk kedua kalinya, dia tercekik seperti semula atau lebih keras. Dia berkata, ‘Berdoalah kepada Allah dan aku tidak mencelakaimu.’ Maka Sarah berdoa dan dia terbebas. Lalu dia memanggil pengawalnya dan berkata, ‘Kalian tidak membawa manusia kepadaku.  Kalian membawa setan kemari.’ Dia memberinya Hajar sebagai pelayannya. Sarah pun pulang kepada Ibrahim yang sedang shalat, maka Ibrahim memberi isyarat dengan tangannya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Sarah menjawab, ‘Allah menggagalkan makar orang kafir atau orang fajir (berupa siksaan) di lehernya dan memberiku Hajar.’”
Abu Hurairah  berkata, “Itulah ibu kalian, wahai Bani Ma’is Sama’ (air langit).”
Takhrij Hadis
Riwayat pertama diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dalam Kitabul Buyu’, bab membeli hamba sahaya dari kafir harbi, menghibahkannya dan memerdekakannya, 4/410 no. 2217. Riwayat kedua di Kitabul Anbiya, bab firman Allah “Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai khalil.” (An-Nisaa: 125), no. 3358.
Bukhari juga meriwayatkannya di beberapa tempat dalam Shahih-nya di antaranya dalam Kitabul Ikrah, bab jika seorang wanita dipaksa berzina, 12/321, no. 6950, dalam Kitabun Nikah, bab mengangkat hamba sahaya kemudian menikahinya, 9/126, no. 5085, dalam Kitab Thalaq, keterangan tentang bab tanpa sanad, 9/387, dalam Kitab Hibah, bab dia jika berkata, aku memberimu pelayan hamba sahaya ini, no. 2635. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Fadhail, bab keutamaan-keutamaan ibrahim, 4/184, no, 2371, dengan syarah Nawawi, 15/509.
Penjelasan Hadis
Ibrahim pergi dari negerinya bersama isterinya setelah kaumnya melemparkannya ke dalam api dan Allah menyelematkannya darinya. Ibrahim sampai di negeri yang jauh. Di sana, ia tidak memiliki pendukung. Dalam kondisi seperti ini orang-orang zalim lagi lalim berhasrat untuk menerkam orang seperti Ibrahim. Ibrahim menghadapi masalah ini manakala ia singgah di negeri dengan seorang raja yang sombong lagi serakah. Raja mendengar kedatangan Ibrahim di negerinya dengan seorang wanita cantik yang tergolong paling cantik di dunia.
Salah satu kebiasaan mereka jika menginginkan seorang wanita adalah dengan menyiksa suaminya, jhka wanita tersebut bersuami. Tetapi jika wanita itu lajang, maka mereka tidak akan mengganggu kerabatnya. Oleh karena itu, Ibrahim berkata kepada utusan raja tersebut ketika dia bertanya tentang Sarah, bahwa dia adalah saudara perempuannya. Ibrahim mengirim isterinya kepada laki-laki bejat itu seperti yang dia minta, karena ia percaya dengan penjagaan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah mewasiatkan kepadanya agar tidak membocorkan hubungan sebenarnya antara dia dengan isterinya. Ibrahim juga menjelaskan pandangannya dalam hal ini kepada isterinya, bahwa dia adalah saudara perempuannya dalam agama, karena di muka bumi tidak terdapat orang yagn beriman selain keduanya.
Walaupun maksud Ibrahim dari pernyataannya bahwa Sarah adalah saudara perempuannya, yakni saudara dalam iman dan Islam, dia tetap menolak untuk memberi syafaat pada hari kiamat ketika orang-orang meminta kepadanya untuk bersedia menjadi perantara kepada Tuhan mereka agar Dia memutuskan urusan mereka. Ibrahim beralasan bahwa dirinya telah berdusta sebanyak tiga kali, yaitu ucapan, “Sesungguhnya aku sakit.” (Ash-Shaffat: 89), ketika mereka mengajaknya berpartisipasi dalam hari raya mereka yang syirik dan batil. Yang kedua adalah ucapannya, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.” (Al-Anbiya: 63), ketika dia menghancurkan berhala dan membiarkan patung terbesar dengan mengalungkan kapak di lehernya, dan dia menyatakan bahwa patung besar inilah penghancur patung-patung kecil. Dan yang ketiga adalah ucapan Ibrahim dalam kisah ini kepada raja zalim tersebut, bahwa Sarah adalah saudara perempuannya demi melindungi diri dari ancaman siksa raja lalim tersebut.
Ibrahim mengirim istrinya kepada raja zalim itu, dan  dia  bersegera melakukan shalat untuk berdoa kepada Allah dan berlindung kepada-Nya. Allah telah menjaga Sarah, isteri Ibrahim, untuk Ibrahim, sebagaimana Dia menjaga diri Sarah. Begitu Sarah tiba dan orang lalim itu hendak menyentuhnya, dia tercekik dengan keras sampai dia menjejakkan kakinya ke tanah setelah Sarah berdoa kepada Tuhannya memohon agar menghalangi makar dan kejahatan raja lalim tersebut. Akan tetapi, Sarah juga takut jika orang ini mati, maka mereka menuduhnya sebagai pembunuh sebagaimana ucapannya, “Ya Allah, jika orang ini mati, maka mereka menuduhku membunuhnya.” Allah membebaskan laki-laki itu setelah Dia minta kepada Sarah agar berdoa untuknya dan dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya.
Manakala dia terbebas, dia mengingkari janjinya. Nafsunya telah menguasai dirinya, hingga dia kembali bangkit kepada Sarah. Dia tercekik lagi bahkan lebih keras dari yang pertama. Dia kembali mengiba kepada Sarah agar berdoa kepada Allah supaya dia terbebas dan berjanji tidak akan mengganggunya. Maka Sarah mengulangi ucapannya seperti di dalam doanya, “Ya Allah, jika dia mati maka aku pasti dituduh membunuhnya.”
Setelah dua atau tiga kali dia memanggil pengawalnya dan menyuruh mereka memulangkan Sarah kepada Ibrahim dalam keadaan utuh dan beruntung. Dia mengetahui bahwa Sarah terjaga dan bahwa si lalim itu tidak mampu untuk menjamahnya. Sarah pulang kepada suaminya dengan diiringi oleh Hajar sebagai hadiah dari raja lalim tersebut. Hajar adalah ibu Ismail, Sarah menghadiahkannya kepada Ibrahim dan dia menikahinya.
Dalam sebuah hadits dalam Mustadrak Al-Hakim dan Musykilil Atsar At-Thahawi, bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Jika kalian menaklukkan Mesir, maka hendaknya kalian saling menasehatkan agar berbuat baik kepada orang-orang Qibti, karena mereka mempunyai hubungan perjanjian dan rahim.” (Silsilah Ahadits Shahihah, Nasiruddin Al-Albani, 3/362).
Dalam Shahih Muslim tertulis, “Sesungguhnya kalian akan menaklukkan kota Mesir. Ia adalah bumi yang diberi nama Qirath. Jika kalian menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena mereka memiliki hak dan hubungan rahim” atau beliau bersabda, “hak dan hubungan pernikahan.” (Muslim no. 2543).
Yang dimaksud oleh    Rasulullah dengan hak perjanjian, hubungan rahim atau hubungan pernikahan yang dimiliki orang-orang Mesir adalah, karena Hajar, ibu Ismail, berasal dari kalangan mereka dan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah salah seorang keturunannya.
Versi Taurat
Kisah ini tertulis dalam Taurat dalam Ishah 12 Safar Takwin. Nashnya adalah, “Dan terjadilah kelaparan di bumi, maka Abram turun ke Mesir untuk mengasingkan diri di sana karena kelaparan di bumi sangat keras. Ketika dia hampir masuk Mesir, dia berkata kepada isterinya, Saray, ‘Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah seorang wanita cantik. Jika orang-orang Mesir melihatmu mereka mengatakan, ‘Inilah  istri Abram’, lalu membunuhku dan membiarkanmu. Katakanlah kepada mereka bahwa kamu adalah saudara perempuanku, agar aku mendapatkan kebaikan karenamu dan diriku tetap hidup demi dirimu’.”
Maka, ketika Abram masuk Mesir dan orang-orang Mesir melihat isterinya sangat cantik. Para pembesar Fir’aun melihatnya dan menyanjungnya di hadapan Fir’aun. Maka wanita itu dibawa ke rumah Fir’aun, dan Fir’aun melakukan kebaikan kepada Abram karenanya. Abram diberi kambing, sapi, keledai, hamba sahaya laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. Lalu Allah menggoncang Fir’aun dan rumahnya dengan beberapa goncangan yang dahsyat disebabkan Saray, istri Abram. Fir’aun mengundang Abram dan berkata, “Apa yang kamu lakukan kepadaku? Mengapa kamu tidak berterus terang bahwa wanita ini adalah isterimu? Mengapa kamu mengatakan dia adalah saudara perempuanmu? Karenanya aku ingin memperisterinya. Sekarang, ambil kembali isterimu ini dan pergilah.” Lalu Fir’aun memerintahkan orang-orangnya untuk mengantar Abram dan isterinya beserta seluruh harta yang dimilikinya.
Terulis dalam Ishah 20 dalam Safar Takwin, bahwa raja lalim lainnya dari Palestina mengganggu Sarah, dan dia melepaskannya tanpa mampu menyentuhnya setelah malaikat mengancamnya dalam mimpinya. Disebutkan pula bahwa Ibrahim memberitahu malaikat kalau Sarah adalah saudara perempuan bapaknya.
Dalam Ishah 20 tertulis, “Dan Ibrahim berpindah dari sana ke bumi selatan dan tinggal di antara Qadisy dan Syur. Dia mengasingkan diri di Jarrar. Ibrahim berkata tentang isterinya, Sarah, ‘Dia adalah saudara perempuanku’.” Maka raja Jarrar, yakni Abu Malik, mengambil Sarah. Lalu Allah datang kepada Abu Malik dalam mimpinya di malam hari. Dia berfirman kepadanya, “Kamu pasti mati disebabkan oleh wanita yang kamu ambil, karena dia itu bersuami.” Hanya saja waktu itu Abu Malik belum menyentuhnya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, engkau membunuh pemimpin yang baik. Bukankah dia sendiri yang berkata bahwa dia adalah saudara perempuannya dan wanita ini juga mengakui dirinya sebagai saudaranya? Dengan niat baik lagi mulia aku melakukan ini.”
Allah berfirman kepadanya dalam mimpinya, “Aku juga mengetahui bahwa kamu melakukan ini dengan niat baik. Aku mencegahmu agar kamu tidak melakukan kesalahan kepadaku. Oleh karena itu, Aku tidak membiarkanmu menyentuhnya. Sekarang, pulangkan wanita ini kepada suaminya karena dia seorang Nabi. Dia berdoa untukmu, maka kamu tetap hidup. Jika kamu tidak mengembalikannya, maka ketahuilah bahwa kamu mati, begitu pula segala yang kamu miliki.”
Pagi harinya, Abu Malik mengumpulkan seluruh hamba sahayanya dan menyampaikan ucapan itu kepada mereka. Orang-orang sangat ketakutan. Kemudian Abu Malik memanggil Ibrahim dan berkata kepadanya, “Apa yang kamu lakukan kepada kami? Apa salahku kepadamu sehingga kamu mendatangkan kepadaku dan kepada kerajaanku kesalahan besar ini? Perbuatan-perbuatan yang tidak semestinya dilakukan tetapi kamu melakukannya kepadaku.” Abu Malik berkata kepada Ibrahim, “Apa yang kamu lihat sehingga kamu melakukan hal ini?” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku berkata bahwa di tempat ini tidak ada rasa takut kepada Allah sama sekali, maka mereka membunuhku karena isteriku. Sebenarnya dia juga saudara perempuanku anak perempuan bapakku. Hanya saja dia bukan anak perempuan ibuku, maka dia menjadi isteriku. Dan ketika Allah memberikannya kepadaku dari rumah bapakku, aku berkata kepadanya, “ini adalah kebaikanmu yang kamu lakukan untukku. Di setiap yang kita datangi katakanlah bahwa aku adalah saudara laki-lakimu.”
Maka Abu Malik mengambil sapi, kambing, hamba sahaya laki-laki dan perempuan dan memberikannya kepada Ibrahim sekaligus mengembalikan Sarah kepadanya. Abu Malik berkata, “Inilah negeriku di hadapanmu, tinggallah di mana pun yang menurutmu baik.” Dia berkata kepada Sarah, “Aku telah memberi kepada saudara laki-lakimu seribu dirham. Ini untukmu sebagai suatu pemberian dari segala arah apa yang ada di sisimu dan di sisi setiap orang lalu kamu  berbuat adil.” Lalu Ibrahim shalat kepada Allah, maka Allah menyembuhkan Abu Malik, istrinya dan para hamba sahayanya, dan mereka melahirkannya karena Tuhan telah menutup semua rahim di rumah Abu Malik disebabkan oleh Sarah, istri Ibrahim.
Komentar menyangkut versi  Taurat
Apa yang tertulis dalam Taurat sesuai dengan isyarat hadis, bahwa kisah ini terjadi di bumi Mesir, dan kami tidak tahu apakah kedatangan Ibrahim bersama Sarah ke sana karena kelaparan atau karena berdakwah karena Allah.
Adapun ucapan Ibrahim kepada Sarah, “Kamu adalah wanita cantik…”, ini mirip dengan apa yang disinggung oleh hadis.
Hadis tidak menyinggung bahwa kisah ini terjadi pada masa Fir’aun. Fir’aun menguasai Mesir sepanjang rentang waktu tertentu, tidak pada semua masa. Dan apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Fir’aun memberikan kekayaan besar kepada Ibrahim  berupa domba, sapi, keledai, hamba sahaya laki-laki dan wanita, keledai betina dan unta, ini tidaklah benar. Karena setelah raja tersebut meminta Sarah dan Ibrahim  mengirimnya, Ibrahim melakukan shalat. Ibrahim hanya mendapatkan Hajar sebagai pemberian raja kepada Sarah. Seandainya raja memberi Ibrahim kekayaan seperti disebutkan di atas, niscaya wahyu yang diberikan kepada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam akan menyinggungnya dalam hadis ini. Padahal, hadis hanya menyebutkan apa yang lebih sedikit dari itu, yaitu hadiah Hajar untuk Sarah.
Apa yang disebutkan dalam Taurat bahwa Allah menggoncang Fir’aun dan rumahnya dengan keras disebabkan oleh Sarah; bahwa Fir’aun mengundang Ibrahim untuk menyalahkannya karena pengakuan Ibrahim tentang Sarah sebagai saudara perempuannya; dan bahwa Fir’aun menginginkan Sarah untuk diperistri, semua itu tidaklah benar. Hadis yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada raja lalim adalah, bahwa dia tercekik beberapa kali. Dan bahwa raja itu tidak mengundang Ibrahim setelahnya dan tidak menyalahkannya, akan tetapi dia memerintahkan untuk mengusir Ibrahim dan istrinya dari buminya dan tidak mengirim seorang pun untuk melepas dan mengantarkannya.
Allah lebih mengetahui kebenaran tentang kisah kedua. Kalaupun itu benar-benar terjadi, maka kisah tersebut mengandung kedustaan yang tidak samara. Ia adalah penyelewengan yang terjadi pada kitab ini. Orang-orang yang menyelewengkan kitab ini mengklaim melalui ucapan Ibrahim bahwa Sarah adalah saudara perempuannya dari bapaknya. Mustahil Ibrahim menikah dengan saudara perempuannya. Kedustaan ini dibantah banyak hadis yang menyatakan bahwa Ibrahim takut terhadap akibat dari tiga kedustaannya pada hari kiamat, yang salah satunya adalah ucapannya ketika raja lalim tersebut bahwa Sarah adalah saudara perempuannya. Ini sangatlah jelas bahwa Sarah bukan saudara perempuan Ibrahim dari nasab. Akan tetapi, maksudnya adalah saudara perempuannya dalam Islam, sebagaimana hal itu dinyatakan secara nyata di dalam beberapa hadis.
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis 
  1. Terjaganya istri-istri para nabi dan rasul. Orang-orang zalim lagi lalim tidak akan mampu mengobok-obok kehormatan mereka, seperti yang terjadi pada raja durhaka ini manakala dia hendak melakukan hal buruk keapda istri Ibrahim, maka Allah menjaga dan menyelematkannya dari niat busuk tersebut.
  2. Hendaknya seorang mukmin berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala manakala menghadapi ujian  dan kesulitan. Ibrahim berlindung kepada Allah melalui shalat ketika dia mengantarkan istrinya kepada raja lalim tersebut; dan Sarah sendiri juga berdoa  dan bermunajat kepada Allah, maka Dia menjaganya.
  3. Kemampuan Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi  untuk menjaga para nabi dan para wali-Nya, serta menolong mereka dengan menangkis makar musuh-musuh.
  4. Kadangkala seorang muslim dipaksa untuk tunduk kepada angin ribut. Ibrahim berkata bahwa Sarah adalah saudara perempuannya. Ibrahim tidak mampu menolak untuk mengirimnya kepada raja durhaka itu. Sarah  pergi kepadanya dan berada di satu tempat bersamanya tanpa orang ketiga, akan tetapi Allah menjaga dan melindunginya. Orang-orang yang menolak tunduk kepada angin ribut adalah orang-orang yang kurang memahami agama Allah. Seseorang tidak akan selalu mampu maju terus meniti jalannya dengan sempurna. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan  para shahabat sesudahnya  serta orang-orang yang berjalan  di atas jalan mereka  membuat perjanjian damai dalam peperangan, dan kadangkala mereka rela dengan kesepakatan yang sangat berat sebelah. Sesuatu yang di luar batas kemampuan harus diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Boleh menerima hadiah dari orang zalim bahkan kafir. Sarah menerima hadiah dari raja lalim itu ketika dia memberinya Hajar, dan Ibrahim menyetujui istrinya menerima hadiah itu.
  6. Wudhu telah disyariatkan kepada umat sebelum kita. Ketika raja durhaka itu hendak menyentuk Sarah, Sarah berdiri untuk berwudhu dan shalat, dan sepertinya wudhunya berbeda dari wudhu kita, karena bagaimana caranya dia berwudhu manakala raja durhaka itu bangkit kepadanya. Bisa jadi wudhunya hanyalah dengan mengusap wajah dan tangan, atau mirip dengan tayamum seperti kita. Maksud shalat di sini adalah doa.
  7. Dalam syariat Ibrahim diperbolehkan bertanya dengan isyarat dalam shalat tentang sesuatu yang ingin diketahui. Ibrahim memberi isyarat kepada Sarah setelah dia kembali sementara dia shalat, yakni isyarat dengan tangannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya.
  8. Boleh berbincang tentang nikmat pemberian Allah kepada hamba-Nya. Sarah memberitahu suaminya dengan karunia Allah ketika menolak makar si kafir dan memberinya pelayan, Hajar kepadanya.
  9. Pernyataan Abu Hurairah bahwa Hajar adalah ibu dari orang-orang yang diajaknya berbicara dan dia m dan dia meriwayatkan hadis kepada mereka.
Sumber: Buku “Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa”, DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Pustaka Yassir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar