sa'at shalat

Jumat, 21 September 2012



http://i156.photobucket.com/albums/t17/docallmesavvy/anti-jesus.jpgOleh : Hj. Irena Handono,
Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center

khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Berikut kita akan membahas kisah Sandiwara Persidangan Yahudi yang dikenal dengan kisah 'Pengadilan di hadapan Imam Besar'. Tentara-tentara Romawi dengan tangan-tangan mereka yang kuat menyeret tubuh Yesus dari Getsemani ke Hanas (ayah mertua Imam Besar Kayafas) dan dari Hanas ke Imam Besar Kayafas dan kemudian Mahkamah Agung Yahudi Sanhedrin untuk menghadapi pengadilan dan hukuman.

Matius 26:57 “Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.”

Matius 26:59-60 26:59 “Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya ia dapat dihukum mati,” 26:60 “tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang.”

Kisah yang diceritakan Bibel di atas sangat jelas menggambarkan betapa pengadilan terhadap Yesus yang dilakukan oleh para rahib Yahudi tersebut hanya sandiwara. Keputusan para musuh Yesus tersebut sudah terekonstruksi sejak awal, mereka sangat membenci Yesus yang dianggap akan menghancurkan kekuasaan mereka. Bagi para rahib yahudi,Yesus harus disalibkan dan harus mati! Tapi Yesus tidak diam, justru ia membela diri. Yesus adalah 'oknum' tidak bersalah yang 'keras kepala', dan dia tahu makar apa yang dirancang para rahib yahudi atas dirinya.

Yohanes 18:19-23 18:19 “Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.” 18:20 “Jawab Yesus kepadanya: Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di .rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.” 18:21 “Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." 18:22 “Ketika ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: ‘Begitukah Jawab-Mu kepada Imam Besar?’” 18.23 “Jawab Yesus kepadanya: Jikalau kataKu itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?"

Sampai di sini kita berhenti sejenak. Ada hal yang perlu simak lebih jeli tentang keyakinan Kristiani mengenai hal ini. Kristiani menisbahkan beberapa nubuat dalam Perjanjian Lama kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa: 'Takdir Yesus memang adalah untuk disalibkan', salah satunya ayat Yesaya berikut:

Yesaya 53:7 “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”

Ini tidak benar. Nubuat tersebut tidak cocok. Kita telah membuktikan sendiri dari ayat-ayat di atas bahwa Yesus tidak hanya diam di hadapan musuhnya, mulai dari sebelum ditangkap sampai dalam pengadilan. Yesus bahkan memberikan pembelaan terhadap dirinya. Maka nubuat Yesaya 53:7 tersebut tidak cocok dengan kondisi Yesus.

Kristiani menisbahkan nubuat yang salah kepada Yesus yang disangka Yesus sebagai penggenapannya, dan masih banyak berbagai klaim nubuat tidak cocok lainnya yang dapat Anda teliti sendiri dalam Bibel dan doktrin Gereja.

Pengadilan yang digelar para rahib Yahudi adalah sandiwara belaka. Ini adalah upaya menjebak Yesus, menghukum Yesus dengan tujuan akhir adalah melenyapkan Yesus. NasibYesus sudah diputuskan. Imam Besar di Mahkamah Agama (Kepala Imam-imam Yahudi) adalah orang yang mengambil keputusan pada setiap pengadilan sipil berdasarkan persangkaannya terhadap terdakwa. Dia telah memutuskan bahwa Yesus harus mati, tanpa mendengar persidangan pembelaan dan lain-lain.

Yang menarik adalah adanya bukti bahwa sesungguhnya Imam Besar telah merekomendasikan kepada mahkamah untuk membunuh Yesus bahkan sebelum terjadi kasus penangkapan tersebut.

Yohanes 11:50 “dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."

Orang Yahudi tentu tidak mengimani bahwa Yesus adalah penebus dosa manusia, lalu apa maksud bahwa Yesus mati untuk seluruh bangsa?

Yohanes 47-48 11:47 “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: 'Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.” 11:48 “Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Yohanes 71:53 “Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.”

Jadi, yang dimaksud tebusan untuk orang banyak adalah tidak lebih bahwa Yesus semacam tumbal untuk menghindari amuk orang Romawi. Para imam Yahudi tidak ingin Yesus memperoleh simpati yang lebih besar dan jumlah pengikut yang makin banyak yang dapat menggeserkan kekuasaan mereka. Sehingga jalan satu-satunya adalah membunuh Yesus. Pada dasarnya tidak ada dosa yang harus ditebus, bagaimanapun kematian di atas kayu salib adalah suatu bentuk kutuk. Dan justru penghinaan dan inilah yang diinginkan oleh orangYahudi.

Kaum Yahudi memfitnah Yesus dengan menyatakan bahwa Yesus telah melecehkan dan berkhianat terhadap ajaran agama Kristen adalah sama dengan Yahudi dalam hal menghina Yesus, tetapi masalahnya berbeda. Baik Yahudi maupun Kristen keduanya menginginkan Yesus mati. Yang satu untuk "kekuasaan diri" dan yang satu lagi untuk "penebusan dosa”, dan tidak ada dari keduanya yang benar. Yesus tidak mempunyai hasrat menghasut bangsa Romawi merebut tempat suci, dan Yesus juga tidak pernah punya keinginan menebus dosa manusia serta tidak punya pengetahuan apapun soal penebusan diatas kayu salib yang merupakan dogma Paulus. [khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar