sa'at shalat

Kamis, 23 Agustus 2012


Kesungguhan ulama dalam mencari ilmu

Muhib Al-Majdi
(Arrahmah.com) – Para sahabat, tabi'in dan generasi salaf memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Mereka rela bersusah payah dan mengadakan perjalanan yang jauh demi mendapatkan penafsiran sebuah ayat atau meriwayatkan sebuah hadits dari seorang ulama.
Inilah kisah ulama besar dan ahli ibadah generasi tabi'in, Masruq bin Ajda' Al-Hamdani Al-Kufi (wafat tahun 63 H). Ia adalah murid senior sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu di kota Kufah. Imam Asy-Sya'bi berkata tentang Masruq bin Ajda' Al-Kufi, "Saya tidak melihat orang yang lebih rajin menuntut ilmu melebihi Masruq." Imam Ibnu Abdil Barr Al-Maliki dalam Jami'u Bayanil Ilmi wa Fadhlihimenulis, "Imam Masruq mengadakan perjalanan jauh demi mendengar satu kalimat (ayat atau hadits). Demikian juga imam Abu Sa'id ---Hasan Al-Bashri--- mengadakan perjalanan jauh demi mendengar satu kalimat (ayat atau hadits)."
Inilah kisah ulama besar tabi'in, Abul 'Aliyah Rufai' bin Mihran Ar-Riyahi Al-Bashri (wafat tahun 93 H). Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Al-Khathib Al-Baghdadi, dalam bukunya Ar-Kifayah fi Ilmir Riwayah menulis: "Abul Aliyah berkata: "Kami mendengar riwayat hadits dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam saat kami berada di Bashrah, maka kami tidak puas sampai kami mengadakan perjalanan ke Madinah untuk mendengar hadits-hadits tersebut secara langsung dari mulut para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam."
Inilah kisah imam Sa'id bin Musayyib Al-Madani (wafat tahun 94 H), seorang ulama besar tabi'in, penghulu generasi tabi'in dan menantu sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Ulama tafsir, hadits dan sejaran Islam, imam Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi dalam Al-Bidayah wan Nihayah menulis tentang biografi imam Sayid bin Musayyib: "Imam Malik meriwayatkan dari imam Yahya bin Sa'id dari Sa'id bin Musayyib berkata: "Saya dahulu mengadakan perjalanan jauh selama beberapa hari dan beberapa malam demi mendapatkan satu hadits."
Inilah kisah ulama besar generasi tabi'in, imam Asy-Sya'bi Amir bin Syarahil Al-Hamdani Al-Kufi (wafat tahun 103 H). Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Muhaddits Al-Fashil Baina Ar-Rawi wal Wa'I menulis: "Imam Asy-Sya'bi mengadakan perjalanan jauh dari Kufah ke Makkah karena mendengar berita tentang tiga buah hadits. Asy-Sya'bi berkata: "Semoga aku bisa berjumpa dengan seorang sahabat radhiyallahu 'anhu (yang bisa menceritakan hadits-hadits tersebut di kota Makkah)."
Inilah kisah ulama besar generasi tabi'in kota Basrah, imam Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi Al-Bashri (wafat tahun 104 H). Imam Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Ar-Rihlah fi Thalabil Haditsmenulis: "Imam Abu Qilabah berkata: "Saya tinggal di Madinah selama tiga bulan, saya tidak memiliki kepentingan di kota ini, selain menunggu kedatangan seorang (sahabat) yang telah sampai berita kepadaku bahwa ia meriwayatkan sebuah hadits. Sampai berita kepadaku bahwa ia akan datang, maka aku menunggu kedatangannya sampai ia datang, sehingga ia bisa menceritakan kepadaku hadits tersebut."
Inilah kisah ulama besar generasi tabi'in di negeri Syam, imam Makhlul Asy-Syami (wafat tahun 112 H). Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Adz-Dzahabi menulis dalam Tadzkiratul Hufazh: "Dari Ibnu Ishaq berkata: Saya mendengar Makhul berkata: "Saya telah berkeliling dunia untuk menuntut ilmu." Abu Wahb meriwayatkan bahwa Makhul berkata: "Saya dimerdekakan di Mesir, maka aku tidak membiarkan seorang ulama pun di Mesir melainkan ilmunya telah aku kuasai. Aku kemudian pergi ke Irak dan Madinah, maka aku tidak membiarkan seorang ulama pun di kedua negeri itu melainkan ilmunya telah aku kuasai. Aku kemudian mendatangi negeri Syam maka aku menyaring ilmu para ulamanya."
Inilah kisah ulama besar hadits dan fiqih abad dua dan tiga Hijriyah, imamnya ahlus sunnah wal jama'ah, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibani (wafat tahun 241 H). Syaikh Ahmad bin Hamdan Al-Hambali Al-Faqih dalam Shifatul Fatwa wal Mufti wal Mustafti menulis: "Imam Ahmad berkata: "Saya mengadakan perjalanan jauh demi mencari ilmu dan sunnah (hadits) ke daerah-daerah perbatasan (negeri Islam dan negeri kafir), negeri Syam, wilayah-wilayah pantai negeri-negeri Islam, Maghrib (Maroko), Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman dan dua Irak (Iran dan Irak), Persia, Khurasan (Afghanistan), wilayah-wilayah pegunungan dan ujung-ujung negeri Islam, kemudian aku kembali ke Baghdad."
Ulama tafsir, hadits, fiqih dan sejarah Islam, Imam Ibnul Jauzi Al-Baghdadi Al-Hambali dalamShaidul Khathir menulis: "Imam Ahmad bin Hambal telah berkeliling dunia (dunia Islam, pent) selama dua kali sehingga ia mampu menulis kitab hadits Al-Musnad."
Inilah kisah menakjubkan seorang ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Ya'qub bin Sufyan Al-Farisi Al-Hafizh Al-Jawwal (wafat tahun 277 H). Ulama hadits dan sejarawan Islam, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tahdzib At-Tahdzib menulis: "Abu Abdurrahman An-Nahawandi berkata; Aku mendengar imam Ya'qub bin Sufyan berkata: "Saya telah mencatat hadits dari seribu orang ulama lebih, dan mereka semua adalah orang yang tsiqah (baik hafalan haditsnya dan shalih akhlaknya). Ibnu Hamzah berkata: "Imam Ya'qub bin Sufyan berkata kepadaku: "Saya telah mengadakan perjalanan jauh (untuk menuntut ilmu) selama tiga puluh tahun."
Kisah-kisah kesungguhan para ulama salaf dalam mengadakan perjalanan jauh demi menuntut ilmu sungguh sangat banyak dan telah diabadikan dalam buku-buku sejarah Islam. Mereka rela meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga, mengadakan perjalanan jauh dengan berjalan kaki atau naik unta sejauh puluhan ribu hingga jutaan kilometer. Mereka mendatangi para ulama di setiap negeri Islam, mendengarkan tafsir, hadits, fiqih, dan akhlak dari mereka. Merekalah yang telah menghimpun ilmu, membukukannya dan meriwayatkannya hingga sampai ke tangan umat Islam saat ini. Sungguh jasa mereka kepada kaum muslimin sangat besar.
Saudaraku seislam dan seiman…
Tauladan mereka dalam mengadakan perjalanan jauh demi menuntut ilmu adalah nabiyullah dan kalimullah, Musa 'alaihis salam. Meski beliau adalah seorang nabi dan rasul yang mendapat predikat ulul azmi dan kalimullah (orang yang pernah berbicara secara langsung dengan Allah), beliau tidak malu dan malas untuk berjalan jauh demi menuntut ilmu. Allah mengabadikan kisahnya dalam firman-Nya:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا (60) فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا (61)  فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا (62) قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا (63) قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا (64) فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (65) قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِع؏كَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66)
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun."
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."
Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (QS. Al-Kahfi [18]: 60-66, baca juga kelanjutan kisahnya sampai ayat 82)
Teladan mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam yang telah mengajarkan:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan ke surga." (HR. Abu Daud no. 3641, Tirmidzi no. 2646 dan Ibnu Majah no. 223)
Semoga kita bisa mewarisi dan meneladani kesungguhan mereka dalam mendalami ilmu syariat Islam ini. Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi:
Abdul Fattah Abu Ghuddah, Shafahat min Shabril Ulama' 'ala Syadaidil Ilmi wat Tahshil, Alepo: Maktbah Al-Mathbu'ah Al-Islamiyyah, cet. 2, 1394 H.
http://blog.al-habib
Peristiwa di Bulan Syawal dalam Islam

syawal adalah bulan ke sepuluh di dalam kalender islam. Syawwal menurut akar katanya berarti naik, ringan, atau membawa (mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. Selain itu, biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta mengandungatau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini. Karenanya, orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial. Kepercayaan ini dihapus oleh islam dengan peristiwa pernikahan Nabi Muhammad saw. di bulan tersebut 

Peristiwa Ibadah

Hari pertama di bulan Syawal, tentu saja merupakan Hari Raya Idul Fitri bagi umat islam setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pada 1 Syawal, kaum muslimin keluar rumah untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. 
Hari-hari berikutnya di bulan Syawal merupakan kesempatan untuk ‘menyempurnakan’ puasa ramadhan dengan Puasa Enam Hari di bulan Syawal. Dengan tambahan puasa enam hari ini, kaum muslimin bisa memperoleh pahala setara dengan puasa satu tahun.
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Bulan Syawal juga merupakan awal dimulainya bulan-bulan ibadah haji, karena sejak bulan inilah diperbolehkan berniat ihram untuk melakukan ibadah haji. Umrah yang dilakukan pada bulan ini juga bisa digabung dengan ibadah haji di bulan Dzulhijjah sehingga menjadi Haji Tammatu.

Peristiwa Sejarah

27 Syawal, Perjalanan Nabi saw. ke Thaif, tahun ke-10 kenabian.
13 Syawal, kelahiran ahli hadits Imam Bukhari
Syawal 1 H, Perang Bani Qainuqa
17 Syawal 3 H, Perang Uhud
Kelahiran Siti Aisyah dan pernikahannya dengan Nabi Muhammad saw. terjadi di bulan Syawal.
29 Syawal, pernikahan Fatimah dengan Ali ra.
Syawal 4 H, Pernikahan Nabi saw. dengan Ummu Salamah
Syawal 4 H, Kelahiran cucu Nabi saw., Hussain.
18 Syawal 5 H, Perang Khandaq (Ahzab, Parit)
6 Syawal 8 H, Perang Hunain.


Harga Segelas Air


Harga Segelas Air


http://www.republika.co.id,  Hasan Basri Tanjung      
Suatu ketika, Khalifah Harun Al-Rasyid duduk gelisah. Untuk meringankan beban pikirannya, ia mengundang ulama terkemuka pada masanya, Abu As-Sammak. “Nasihatilah aku!” pinta Khalifah.

Pada saat yang sama, pelayan membawa segelas air untuk Khalifah. Sebelum minum, Abu As-Sammak berkata, “Tunggu sebentar. Seandainya dalam keadaan sangat haus, sedangkan segelas air ini tidak kau peroleh, berapakah harga yang kau siap bayar? Jawablah dengan jujur!”

“Setengah dari kekayaanku,” jawab Khalifah.

Sang ulama pun mempersilakan khalifah minum. Selesai minum, Abu As-Sammak bertanya lagi, “Seandainya air tadi mendesak untuk dikeluarkan, tapi kau tak mampu mengeluarkannya, berapakah yang akan engkau bayarkan agar ia keluar?”

Khalifah menjawab, “Setengah dari kekayaanku.”

“Kalau demikian, sadarilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ada di sisimu, nilainya hanya segelas air. Tidak wajar diperebutkan dan dipertahankan tanpa hak. Ketahuilah, betapa banyak nikmat Allah selain segelas air itu yang telah engkau nikmati sehingga tidak wajar jika engkau tidak mensyukurinya,” nasihat Abu As-Sammak kepada Harun Al-Rasyid.

Dialog singkat di atas memberikan pelajaran berharga. Pertama, hendaklah para penguasa negeri (umara) dalam seluruh tingkat untuk senantiasa meminta dan mendengar nasihat para ulama. Selagi para umara masih mendengar nasihat ulama, negeri ini akan selamat dari murka Allah.

Kedua, nilai segelas air. Air sangat berharga dalam kehidupan manusia. Manusia akan mati jika kekurangan cairan (dehidrasi). Air adalah awal dan sumber kehidupan alam semesta. Allah turunkan air yang tidak asin dengan kadar tertentu agar mendatangkan kebaikan kepada manusia dan alam semesta. (QS Al-Waqi’ah [56]: 68-70).

Bumi yang kering akan kembali subur, binatang yang kehausan dan kepanasan akan tersenyum dengan air, dan tanam-tanaman akan tumbuh dengan subur serta rezeki akan melimpah tumbuh dari perut bumi. (QS [2]: 22, [7]: 57,dan [14]: 32).

Kapan makan dan minum yang paling nikmat? Yakni, ketika lapar dan haus. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan kita puasa. Salah satunya, agar enak makan dan minum. Tetaplah lapar, karena hanya orang lapar yang mengerti arti sebutir nasi. Tetaplah haus karena hanya orang haus yang mengerti arti setetes air. Itulah makna bersyukur sebagai salah satu tujuan puasa. (QS [2]: 185).

Meskipun lapar dan haus, makan dan minumlah seperlunya (kebutuhan) dan jangan berlebihan. (QS [2]: 60, [7]: 31, [20]: 81). Bagi yang tidak enak makan, tak perlu minum obat nafsu makan. Tapi cukup dengan berpuasa, niscaya baik akibatnya (QS [2]: 184).

Makna berikutnya, makan yang enak adalah ketika makan bersama orang-orang lapar, baik karena puasa maupun kemiskinan. Memberi hidangan berbuka akan dibalas dengan pahala orang yang berpuasa. Begitu juga memberi makan anak yatim dan dhuafa. (QS [76]: 8-10).

Jangan makan bersama orang yang kenyang. Sebab, kenikmatan akan hilang dan akhirnya makanan dibuang-buang. Itulah kekufuran (QS [2]: 152) dan perbuatan setan (QS [17]: 26).
Kemuliaan itu dengan agama dan ilmu

Muhib Al-Majdi
(Arrahmah.com) - Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan sebuah kisah menarik tentang dialog antara khalifah Abdul Malik bin Marwan dan ulama hadits dari generasi tabi'in, imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri. Kisah tersebut dituturkan oleh Walid bin Muhammad Al-Muwaqqari bahwa pada suatu hari imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri mendatangi khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Abdul Malik bin Marwan: "Dari mana Anda datang?"
Az-Zuhri: "Dari Makkah."
Abdul Malik bin Marwan: "Siapa ulama yang memimpin Makkah sepeninggal Anda?"
Az-Zuhri: "Atha' (bin Abi Rabah)."
Abdul Malik bin Marwan: "Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?"
Az-Zuhri: "Dia seorang budak yang telah dimerdekakan."
Abdul Malik bin Marwan: "Dengan apa ia menjadi pemimpin (ulama) Makkah?"
Az-Zuhri: "Dengan agama (ketakwaan) dan riwayat (ilmu dan periwayatan hadits)."
Abdul Malik bin Marwan: "Orang yang memiliki agama dan riwayat memang seyogyanya diangkat sebagai pemimpin. Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Yaman?"
Az-Zuhri: "Thawus (bin Kaisan Al-Yamani)."
Abdul Malik bin Marwan: "Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?"
Az-Zuhri: "Dia seorang budak yang telah dimerdekakan."
Abdul Malik bin Marwan: "Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Syam?"
Az-Zuhri: "Makhul (Abu Abdillah Asy-Syami)."
Abdul Malik bin Marwan: "Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?"
Az-Zuhri: "Dia seorang budak yang telah dimerdekakan. Ia seorang budak bangsa Naubah yang dimerdekakan oleh seorang wanita dari suku Hudzail."
Abdul Malik bin Marwan: "Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Jazirah (negeri di antara sungai Tigris dan Eufrat di Irak)?"
Az-Zuhri: "Maimun bin Mihran dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan."
Abdul Malik bin Marwan: "Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Khurasan (Afghanistan)?"
Az-Zuhri: "Dhahak bin Muzahim dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan."
Abdul Malik bin Marwan: "Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Bashrah?"
Az-Zuhri: "Hasan (bin Yasar Al-Bashri) dan ia seorang budak yang telah dimerdekakan."
Abdul Malik bin Marwan: "Lalu siapa (ulama) yang memimpin negeri Kufah?"
Az-Zuhri: "Ibrahim (bin Yazid) An-Nakha'i."
Abdul Malik bin Marwan: "Dia orang Arab atau orang maula (budak yang dimerdekakan)?"
Az-Zuhri: "Dia adalah orang Arab."
Abdul Malik: "Aduh! Anda telah mengurangi kesempitan saya. Demi Allah, budak-budak yang dimerdekakan akan memimpin orang-orang Arab di negeri ini sehingga nama mereka disebut-sebut di atas mimbar-mimbar, sementara orang-orang Arab berada di bawah mimbar."
Az-Zuhri:
يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ، إِنَّمَا هُوَ دِيْنٌ، مَنْ حَفِظَهُ، سَادَ، وَمَنْ ضَيَّعَهُ، سَقَطَ.
"Wahai amirul mukminin, ini adalah agama. Barangsiapa menjaga agama, niscaya ia akan memimpin. Dan barangsiapa menelantarkan agama, niscaya ia akan jatuh."
***
Saudaraku seislam dan seiman…
Kisah di atas mengajarkan kepada kita bahwa nilai seseorang diukur dari kadar pengetahuan dan pengamalannya terhadap dien Allah. Jika seseorang memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan As-sunnah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya walaupun ia berasal dari rakyat jelata dan bangsa non-Arab. Sebaliknya, Allah akan menghinakan derajat seseorang yang tidak memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan as-sunnah, walau ia seorang penguasa dan berasal dari bangsa Arab.
Itulah hukum Allah dan hukum Rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam juga telah menegaskan hukum yang sama.
عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ، أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ، لَقِيَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ، وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ، فَقَالَ: مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي، فَقَالَ: ابْنَ أَبْزَى، قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا، قَالَ: فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ، قَالَ عُمَرُ: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ: «إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ».
Dari Amir bin Watsilah bahwasanya Nafi' bin Abdul Harits bertemu dengan Umar bin Khathab di Usfan. Nafi' adalah pejabat yang diangkat oleh Umar sebagai gubernur Makkah. Umar bertanya, "Siapa yang engkau angkat sebagai gubernur sementara atas penduduk lembah Makkah ini?" Nafi' menjawab, "Ibnu Abza." Umar bertanya, "Siapa itu Ibnu Abza?" Nafi' menjawab, "Seorang budak yang telah kami merdekakan." Umar bertanya, "Engkau mengangkat seorang budak yang telah dimerdekakan sebagai gubernur sementara atas penduduk Makkah?" Nafi' menjawab, "Tetapi dia hafal Al-Qur'an dan ahli di bidang faraidh (ilmu pembagian warisan)." Umar bin Khathab berkata, "Adapun Nabi kalian shallallahu 'alaihi wa salam telah bersabda: "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur'an ini dan merendahkan derajat beberapa kaum lainnya dengan Al-Qur'an ini." (HR. Muslim no. 817, Ahmad no. 232, Ibnu Majah no. 218, Al-Bazzar 249 dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 1184)
Sumber kisah:
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Siyaru A'lam An-Nubala', 5/85, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 3, 1405 H.
http://www.dakwahsunnah.com

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed 

Kenapa ulama2 wahabi dan muhammadiyah. menyatakan Bid'ah dan tidak memperbolehkan, Tahlilan dan Yasinan Serta Maulid Nabi. syukron.
 
 
 Jawaban:
 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
 
Sebelum jawaban, saya ingin mengingatkan bahwa asal istilah "wahabi" hanya dihembuskan oleh orang-orang kafir yang tidak ingin umat Islam beragama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Adapun mengenai jawaban atas pertanyaan adalah:

Tahlilan, yasinan dan Maulid Nabi termasuk bid’ah yang berakibat kaum muslim tidak boleh melaksanakannya karena tidak ada satu dalilpun yang SHAHIH (BENAR) DAN SHARIH (JELAS) menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam melakukan, menganjurkan atau memerintahkannya.
 
Dan apabila sebuah perbuatan yang berkaitan dengan agama, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah dianjurkan atau disetujui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam padahal:
 
- beliau mampu mengerjakannya,
- dan tidak ada halangan beliau mengerjakannya, 
 
Maka jika dikerjakannya di zaman sekarang menjadi perbuatan yang dibuat-buat dalam perkara agama atau disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Bid’ah.
 
Dan perlu diingat, mungkin setelah membaca jawaban ini mungkin ada terbetik;

“Masa mungkin seluruh yang mengerjakan hal-hal di atas salah dan keliru selama ini, padahalkan itu dari kakek, buyut saya, bahkan sebelum ada saya juga sudah ada dan mereka kan para ulama juga.”
 
Maka bisa dijawab:
 
- Kebenaran itu berasal dari Al Quran dan Hadits, bukan berasal dari pendapat manusia biasa yang bukan Nabi atu Rasul.
 
- Kebenaran tidak dilihat dari banyak atau tidaknya pengikut atau pelaku akan tetapi sesuai dengan Al Quran dan Hadits tidak.
 
“Masa sih tidak ada dalilnya, yang menganjurkan perbuatan-perbuatan itu kan para ulama juga.” 
 Maka bisa dijawab:
 
- Hal-hal yang disebutkan seperti tahlilan, yasinan, maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada dalilnya kalaupun ada tidak lebih dari;
 
1. Dalilnya palsu yang seorang muslim tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan bersandarkannya.
 
2. Dalilnya lemah yang seorang muslim juga tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan menurut pendapat yang lebih kuat.

3. Dalilnya shahih tetapi salah dalam pendalilannya atau dalam kata lain terlalu dipaksakan sebagai dalil.
 
"Masa sih tidak boleh, di dalamnya kan kita beribadah; baca Al Quran, membaca shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berdzikir dan ibadah lainnya seperti sedekah, silaturrahim dan lainnya.” 
 Maka bisa dijawab:
 
Apa yang disebutkan tadi memang ibadah yang disyari’atkan dalam Islam tanpa ada keraguan di dalamnya, tetapi perlu diingat ibadah tersebut harus sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam perihal; tempatnya, waktunya, sebabnya, jumlah bilangannya, tata caranya, jenisnya.
 
Saya beri contoh: mengkhususkan membaca yasin setiap malam jumat, pengkhususan malam jumat harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas. Bukan membaca yasin yang bermaslah tetapi pengkhususannya pada malam Jumat yang bidah.

Contoh lain; tahlilan di dalamnya membaca لا إله إلا الله dalam jumlah bilangan tertentu, pada waktu tertentu yaitu 1,2, 3, 25, 40, 70, 100, 1000, setiap tahun, dengan gerakan tertentu, dan dengan jumlah bilangan tertentu, hal-hal yang tertentu-tertentu ini harus contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
 
Bukan membaca لا إله إلا الله yang salah, bahkan ini adalah dzikir yang paling utama tetapi pengkhususan hari, gerakan, jumlah bilangannya yang bidah.
 
Contoh lain; maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mungkin di dalamnya dibacakan shalawat pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, berkumpul-kumpul karena sebab hari kelahiran beliau, berdiri ketika mahalul qiyam dalam pembacaan shalawat ketika maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini semua harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
 
Bukan membaca shalawat yang keliru karen dia adalah ibadah yang disyariatkan tetapi pengkhususan ketika hari kelahiran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jumlah bilangn tertentu, dengan tata cara tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Terakhir…
 
Jadilah umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat mencintainya, dan sungguh....  kita ini sangat dirindukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
  
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَدِدْتُ أَنِّى لَقِيتُ إِخْوَانِى ». قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ «أَنْتُمْ أَصْحَابِى وَلَكِنْ إِخْوَانِى الَّذِينَ آمَنُوا بِى وَلَمْ يَرَوْنِى».
  
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sungguh aku sangat menginginkan bertemu dengan kawan-kawanku,” para shahabat nabishallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bukankah kami kawan-kawanmu?” Beliau menjawab: “Kalian adalah para shahabatku akan tetapi kawan-kawanku adalah orang-orang yang telah beriman kepadaku dan belum pernah melihatku.”

Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah dengan beribadah hanya sesuai petunjuknya
 Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah tidak sok lebih tahu terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengerjakan amalan yang belum pernah beliau kerjakan.
 
Sungguh tanda keimanan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang lebih mendahulukan ajaran, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam daripada siapapun dari manusia dan jin.
 
Mari perhatikan perkataan seprang yang sangat menunjukkan bahwa yang mengatakannya sangat mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sayangnya beliau sering dihina bahkan sampai dikafirkan… 
 
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

 
فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ أَيُّهَا الرَّجُلُ مِنْ أَنْ تَكْرَهَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَرُدَّهُ لِأَجْلِ هَوَاك أَوْ انْتِصَارًا لِمَذْهَبِك أَوْ لِشَيْخِك أَوْ لِأَجْلِ اشْتِغَالِك بِالشَّهَوَاتِ أَوْ بِالدُّنْيَا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُوجِبْ عَلَى أَحَدٍ طَاعَةَ أَحَدٍ إلَّا طَاعَةَ رَسُولِهِ وَالْأَخْذَ بِمَا جَاءَ بِهِ بِحَيْثُ لَوْ خَالَفَ الْعَبْدُ جَمِيعَ الْخَلْقِ وَاتَّبَعَ الرَّسُولَ مَا سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْ مُخَالَفَةِ أَحَدٍ فَإِنَّ مَنْ يُطِيعُ أَوْ يُطَاعُ إنَّمَا يُطَاعُ تَبَعًا لِلرَّسُولِ وَإِلَّا لَوْ أَمَرَ بِخِلَافِ مَا أَمَرَ بِهِ الرَّسُولُ مَا أُطِيعَ . فَاعْلَمْ ذَلِكَ وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَاتَّبِعْ وَلَا تَبْتَدِعْ . تَكُنْ أَبْتَرَ مَرْدُودًا عَلَيْك عَمَلُك بَلْ لَا خَيْرَ فِي عَمَلٍ أَبْتَرَ مِنْ الِاتِّبَاعِ وَلَا خَيْرَ فِي عَامِلِهِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . مجموع الفتاوى (16528).
 
 
"Berhati-hatilah… wahai manusia … dari:

  1. membenci apapun yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
  2. atau menolaknya disebabkan oleh hawa nafsumu.
  3. atau menolaknya karena pembelaan terhadap madzhab dan gurumu.
  4. atau karena kesibukanmu dengan syahwat dunia.

karena:
  1. Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan atas seseorang untuk ta'at kepada seorang makhluk, kecuali keta'atan kepada Rasul-Nya dan mengambil apapun yang dibawa olehnya, yang mana jikalau seorang hamba menyelisihi seluruh makhluk tetapi ia mengikuti Rasulullah, maka Allah tidak akan menanyakan kepadanya tentang ketidak ta'atannya kepada seorang manusiapun.
  2. karena sesungguhnya barangsiapa yang ta'at atau dita'ati, sesungguhnya hanya dita'ati karena pengikutannya kepada Rasulullah, dan jikalau ia memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah ia tidak akan dita'ati.

Maka ketauhilah akan hal itu, dengarkan, ta'ati dan ikutilah serta janganlah membuat sesuatu yang baru, maka amalanmu akan tertolak, kembali kepadamu. Dan tiada kebaikan apapun di dalam sebuah amalan yang tidak mengikuti sunnah dan tidak ada kebaikan apapun bagi pelakunya. Wallahu 'alam. (lihat Majmu' Fatawa, 2/465).

 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 23 Safar 1433H, Dammam KSA
6 syawwal 1433
http://majalah-assunnah.com




PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum.
Ada hadits yang menerangkan bahwa Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pernah akan mendoakan ayahnya yang sudah meninggal, tapi dilarang oleh Allâh Ta'ala. Kenapa banyak orang-orang mengadakan yasinan, tahlilan dengan alasan mendo’akan orang tua yang sudah meninggal. Mereka juga mengatakan bahwa ini merupakan sebentuk perwujudan anak shaleh mendo’akan orang tua. Dan kyai-nya menyebutkan bahwa ini acara tradisi. Bolehkah menghadiri acara tersebut ? Kalau tidak, dimana kemungkarannya ?
Bagaimana cara mendoakan yang sesuai sunnah. Terima kasih, wasalam.

JAWABAN :
Wa’alaikumussalam.
Yang kami ketahui, Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam akan memohonkan ampun untuk ibunya tetapi beliau tidak diidzinkan, sebagaimana hadits di bawah ini:
hadits
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, dia berkata,
“Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menziarahi kubur ibunya,
lalu beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya menangis juga.
Lalu beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda,
'Aku meminta idzin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku,
tetapi aku tidak diberi idzin.
Dan aku meminta idzin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya,
maka aku diberi idzin.
Maka hendaklah kamu berziarah kubur,
karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kepada kematian.'"
(HR. Muslim)

Adapun tentang ayah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam terdapat hadits sebagai berikut :
hadits
Dari Anas radhiyallâhu'anhu bahwa seorang laki-laki berkata,
“Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku?”,
beliau menjawab, “Di dalam neraka”.
Ketika dia berpaling, beliau memanggilnya lalu bersabda,
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam neraka”.
(HR. Muslim)

Untuk menjawab pertanyaan saudara, kami akan membaginya dalam tiga hal yaitu :
a.
Bolehkah menghadiri acara ini yasinan atau tahlilan untuk mendoakan orang yang telah mati ?
Jawaban kami untuk pertanyaan ini adalah tidak boleh menghadirinya. Karena hal ini tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Kecuali jika dia hadir dalam rangka menjelaskan kemungkarannya, lalu meninggalkannya. Anggapan bahwa itu sebagai aktualisasi dari kebaikan anak yang shalih untuk orang tua, tidak lantas bisa dijadikan legitimasi bagi amalan ini. Karena cara mewujudkan bakti kepada orang tua yang sudah meninggal telah dijelaskan caranya-caranya dalam Islam seperti memohon ampun atau menyambung tali silaturrahim dengan teman dekatnya.
Begitu juga klaim, bahwa acara ini sebagai tradisi semata, tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memperbolehkan amalan ini. Karena faktanya mereka yang melakukan itu berharap pahala dari Allâh Ta'ala ketika melaksanakannya bahkan disebagian tempat orang yang tidak melaksanakannya dianggap tidak mau melaksanakan sunnah. Bukankah ini berarti ibadah ?
Padahal yang namanya ibadah harus berlandaskan dalil. Kalaupun dianggap sebagai tradisi, maka dalam Islam, tradisi itu boleh dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sementara yasinan yang mereka klaim sebagai tradisi ini ternyata menyelisihi agama Islam yang telah sempurna yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda :
hadits
"Barangsiapa yang membuat suatu yang baru dalam ajaran kami
yang tidak berasal darinya, maka perkara itu tertolak."[1]
b.
Dimanakah letak kemungkarannya ?
Kemungkaran-kemungkaran amalan ini banyak, diantaranya :
  1. Yasinan atau tahlilan merupakan bentuk ibadah yang tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
  2. Berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian dan apalagi disertai dengan penghidangan makanan dari tuan rumah setelah penguburan merupakan bentuk niyâhah (meratap) yang dilarang oleh agama.
  3. Jamuan yang diberikan tuan rumah kepada tetamu bertentangan dengan Sunnah Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam yang memerintahkan para tetangga untuk memberi makan kepada keluarga mayit, bukan keluarga mayit yang menghidangkan makanan kepada tetangga.
  4. Bertentangan dengan akal. Karena orang yang sedang didera kesusahan dengan sebab kematian anggota keluarganya sepantasnya dihibur. Bukan ditambahi beban dengan menghidangkan jamuan buat para tamu, baik tetangga maupun kerabat atau dengan membayar orang yang membacakan al- Qur’ân, tahlil atau doa.
  5. Mengadakan perayaan untuk kematian, seperti perayaan pada hari ketiga, kesembilan dan seterusnya adalah kebiasaan yang berasal dari ajaran agama Hindu. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam meninggalkannya.
Dan berbagai kemungkaran lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini, karena terkadang jenis kemungkaran ini berbeda-beda sesuai dengan daerahnya.
c.
Bagaimana cara yang benar dalam mendo’akan mayit ?
Sebatas yang kami tahu, cara mendo’akan mayit menurut Sunnah adalah sebagai berikut :
  1. Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika mendengar berita atau mengetahui kematian seorang muslim.
  2. Mendo’akan dan memohonkan ampunan saat shalat jenazah.
  3. Mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika ziarah kubur.
  4. Mendoakan dan memohonkan ampunan di setiap ada waktu dan kesempatan, dengan tanpa menentukan waktu, tempat dan tata-cara khusus yang tidak diajarkan oleh Allâh dan Rasul-Nya.
Inilah jawaban kami secara ringkas. Bagi para pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan secara rinci bisa meruju’ ke kitab-kitab Ulama yang membahas masalah hukum-hukum jenazah, seperti kitab Ahkâmul Janâ’iz karya syaikh al-Albâni rahimahullâh, dan kitab-kitab yang lain.

[1]
HR Bukhâri dan Muslim