sa'at shalat

Senin, 29 Oktober 2012

PISANG DAN KEDAHSYATANYA
Selasa, 14 DZulhijjah 1433 / 30 Oktober 2012
MUZAKKI JULI 2006







PISANG MENGANDUNG TIGA GULA ALAMI, SUKROSA, FRUKTOSA, DAN GLUKOSA YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN SERAT SEHINGGA SECARA TIDAK LANGSUNG DAPAT MENGHASILKAN ENERGI YANG BESAR. SEBUAH PENELITIAN MEMBUKTIKAN HANYA DENGAN KONSUMSI DUA (2) BUAH PISANG DAPAT MENGHASILKAN ENERGI YANG CUKUP UNTUK LATIHAN BERAT SELAMA KURANG LEBIH 90 MENIT. SEHINGGA PISANG SANGAT DIGEMARI OLEH DUNIA OLAH RAGA (ATLETIK). PISANG JUGA MENCEGAH DAN MENGATASI SEJUMLAH PENYAKIT, ANTARA LAIN ;


1. DEPRESI
    KANDUNGAN TRYPTOPHAN, SALAH SATU DARI 3 PROTEIN YANG TELAH DIUBAH MENJADI SERETONIN SEHINGGA MEMBERI        EFEK RELAKSASI DAN VITAMIN B6 YANG DAPAT MENGATUR TINKAT GLUKOSA DARAH YANG DAPAT MEMPERBAIKI MOOD.

2. ANEMIA
MENGANDUNG ZAT BESI YANG TINGGI, SEHINGGA DAPAT MENSTIMULASI PRODUKSI HEMOGLOBIN DALAM DARAH YANG DAPAT MENCEGAH ANEMIA.

3. STABILKAN TEKANAN DARAH
POTASSIUM TINGGI TAPI RENDAH GARAM. FDA AMERIKA MEMBERIKAN IJIN KEPADA PERUSAHAAN YANG PRODUKSI PISANG BAHWA IA DAPAT MENGURANGI RESIKO STROKE DAN TEKANAN DARAH.

4. TINGKATKAN KEMAMPUAN OTAK
POTASSIUM MENSTIMULASI PUPIL UNTUK LEBIH SIGAP MENERIMA INFORMASI.

5. LANCAR BAB
SERAT TINGGI.

6. IRITASI KULIT
NORMALKAN KEASAMAN KULIT SEBAGAI PEMICU IRITASI KULIT.

7. GELISAH DAN STRESS
VIT B  YANG TINGGI DAPAT MEMBANTU MENENANGKAN SISTEM SARAF. DAN POTASSIUM DAPAT MENYUPLAI OKSIGEN KE OTAK DAN MENGATUR KESEIMBANGAN AIR PADA TUBUH.

8. MEMBENTU TUBUH SAAT KELELAHAN
CAMILAN YANG TERBUAT DARI PISANG SANGAT MEMBANTU DALAM PROSES MENUJU MAKAN SIANG.

9. MENGATUR SUHU BADAN
DIPERCAYA DAPAT MEMBERIKAN KESEGARAN DAN KESTABILAN EMOSI BAGI IBU HAMIL.




Rabu, 24 Oktober 2012


Menyingkap Rahasia Ikhlas

Kamis, 9 dZulhijjah 1433 / 25 Oktober 2012

Menyingkap Rahasia Ikhlas



Oleh: Ustadz Arifin Ilham 

"Tuan guru, ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tuan dengar langsung dari baginda Rasulullah SAW," kata salah seorang pemuka Syam kepada Abu Hurairah RA.

"Sesungguhnya manusia yang pertama kali akan diadili—pada pengadilan akhirat nanti—adalah seseorang yang mati dalam peperangan (mati syahid)," jawab Abu Hurairah mengutip hadis Rasulullah SAW.

Abu Hurairah berkata, "Dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT, lalu disodorkan amalannya dan Allah pun Mahamengetahuinya.” Kemudian, Allah SWT bertanya, “Apa saja yang kamu kerjakan ketika di dunia?” Orang tersebut menjawab, “Saya berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai-sampai saya mati terbunuh.” 

Allah berfirman, “Kamu bohong, yang benar kamu berperang supaya kamu dapat dikatakan sebagai 'pahlawan' dan mereka telah menyebutmu demikian.” Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya dan melemparnya ke dalam neraka.

Ada juga seseorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain. Lalu, dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Dia-pun Mahamengetahui. Kemudian, Allah SWT bertanya, "Apa yang kamu kerjakan waktu di dunia?" Orang itu menjawab, "Saya belajar Alquran dan telah pula mengajarkannya."

"Kamu bohong, kamu belajar Alquran supaya dikatakan sebagai orang pandai, ulama, atau intelektual. Engkau membaca Alquran supaya dikatakan sebagai orang yang mampu membaca Alquran dengan baik, dan itu semua sudah dikatakan oleh mereka." Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka.

Setelah itu, ada seseorang yang diberi keluasan harta oleh Allah SWT, lalu dihadapkanlah orang tdrsebut. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Allah pun Maha Mengetahui. Allah SWT bertanya, "Apa yang kamu kerjakan ketika di dunia?" Orang tersebut menjawab, "Saya telah infakkan harta yang saya miliki demi Engkau, ya Allah." 

Allah berfirman, "Kamu bohong, kamu melakukan semua itu supaya kamu dikatakan orang yang dermawan, dan itu sudah dikatakan oleh mereka." Lalu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka," pungkas Abu Hurairah sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim.

Allahu Akbar. Rahasia ikhlas ternyata benar-benar tak seorang pun yang tahu. Hanya Allah yang benar-benar mengetahuinya, "Sirrun min asrariy, rahasia di antara rahasia-Ku," kata sebuah hadis Qudsi. 

Banyak ulama yang menyebut beberapa di antara tanda ikhlas. Pertama, istiqamah, terus-menerus dalam ibadah, baik ada maupun tidak ada orang, dipuji atau dihina. Kedua, tidak ‘geer’ karena pujian dan tidak sakit hati karena hinaan.

Ketiga, pantang berkeluh kesah karena semuanya diputuskan Allah dengan rahmat, ilmu, dan kebijakan-Nya sehingga tampaklah pada wajahnya yang selalu tersenyum. Keempat, baik sangka dengan selalu memuji Allah atas segala peristiwa dan kejadian-Nya. Kelima, qanaah, puas bukan hanya dengan nikmat Allah, melainkan atas segala keputusan Allah.

Berikutnya at-tawadhu' (rendah hati), lalu  asy-syahiyyu (ringan tangan) untuk memberi. Selanjutnya, bersemangat hanya pada yang halal karena orientasi hidupnya akhirat, memaafkan dengan mendoakan yang menyakiti, kalaupun dipuji ia balas dengan doa.

Hobi dan kesibukannya adalah bermuhasabah diri dan tidak tertarik mencari aib orang lain, lalu lisannya terus berzikir, beristighfar, dan bershalawat. Hati bertekad selalu menghidupkan sunah harian Rasulullah SAW. Dan, mudah menitikkan air mata ketika sedang dalam puncak kenikmatan taat. Wallahu a'lam.

Sepuluh Perbuatan yang Dibenci Allah

Kamis, 9 dZulhijjah 1433 / 25 Oktober 2012

Sepuluh Perbuatan yang Dibenci Allah



Oleh: Ina Salma Febriani
 
“Dan kami menurunkan Alquran sebagai obat dan rahmat bagi orang yang beriman...” (QS. Al-Isra: 82).
 
Allah menyebut Alquran dengan berbagai nama yang di dalamnya terkandung makna yang dalam. Salah satunya ialah Syifa’ (obat) dan Rahmah (kasih sayang). 

Karena rahmah-Nya, maka Allah banyak memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan dan dilarang-Nya. Petunjuk itu sebagai bentuk bahwa Allah tidak menginginkan hamba-Nya salah berbuat, bergelimang maksiat, serta melenceng dari syariat.

Dalam Alquran, bentuk kasih sayang dalam bentuk larangan dipaparkan Allah swt dalam surah Al-Isra, diawali dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) yakni pembersihan akidah dan makna tersirat dalam La Ilaha illallah, disambung dengan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas).

Pertama, larangan mempersekutukan Allah (syirik), dalam (QS al-Isra: 22. Kedua, penghormatan terhadap orang tua (QS al-Isra: 23-24).

Ketiga, penunaian hak terhadap orang miskin, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS al-Isra: 26).

Keempat, perintah jangan terlalu kikir, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS al-Isra: 29).

Kelima, larangan membunuh anak, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS al-Isra: 31).

Keenam, larangan berzina, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra: 32).

Ketujuh, larangan membunuh seseorang, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS al-Isra: 33).

Kedelapan, larangan memakan harta anak yatim, “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isra: 34).
Kesembilan, larangan taqlid buta (mengikuti syariat tanpa dasar naqli yang jelas), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isra: 36).

Kesepuluh, larangan sombong, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS al-Isra: 37).

Kesepuluh larangan ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah sangat membenci perbuatan tersebut jika kita melakukannya, “Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.” (QS al-Isra: 38). Semoga Allah menghindarkan kita dari sepuluh perbuatan di atas. Amin.

Selasa, 23 Oktober 2012


Perhatian Islam Terhadap Akhlak


Perhatian Islam Terhadap Akhlak


REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah membuktikan, kebahagiaan menjalankan syariat Islam hanya dapat diperoleh dengan terwujudnya akhlak yang baik. 

Keterputusan hubungan antara pelaksanaan syariah dengan akhlak atau sebaliknya, merupakan hal yang dapat menghancurkan jiwa dan kehidupan manusia.

Akhlak yang dituntut untuk dipelihara adalah akhlak yang merupakan pilar agama di sisi Allah. Jadi, bukan sekedar mengetahui bahwa kebenaran adalah mulia dan kebohongan adalah hina, keikhlasan adalah sesuatu yang agung dan tipu daya adalah suatu kehancuran. Juga bukan sekedar teori atau obrolan antarmanusia.

Akhlak yang dituntut adalah reaksi jiwa dan pengaruhnya terhadap jiwa itu sendiri. Yakni, segala sesuatu yang sepatutnya dilakukan, maka dilakukannya, dan segala sesuatu yang tidak pantas dikerjakan, maka ditinggalkannya. Jadi, akhlak dalam pengertian ini adalah benteng bagi pelaksanaan seluruh syariat Islam.

Karena itu, Islam sangat mementingkan akhlak, sehingga Rasulullah SAW menjadikan akhlak sebagai pokok risalahnya, sebagaimana sabdanya,“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari).

“Sesuatu yang paling berat dalam timbangan pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. At-Turmudzi).

Untuk membentuk akhlak mulia dalam bentuk lahiriyah, hendaknya dimulai dari pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), sehingga hasilnya akan kekal.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Apabila gumpalan darah itu baik, maka akan menjadi baiklah seluruh tubuh, tetapi jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa ia adalah hati.” (HR. Muslim). 

Faktor yang Membelokkan Akhlak Seseorang



Faktor yang Membelokkan Akhlak Seseorang




REPUBLIKA.CO.ID, Imam Mawardi menuturkan bahwa akhlak yang mulia bisa berubah menjadi buas dan tidak santun. 

Seseorang yang bersifat halus dapat berubah menjadi kasar, pemaaf menjadi pemarah, dan orang yang biasa riang menjadi sering masam.

Di antara faktor yang dapat mengubah akhlak mulia itu adalah sebagai berikut:

1. Memperoleh kekuasaan. Dengan kekuasaan, akhlak seseorang dapat berubah. Orang yang terbiasa berbuat keliru dapat melakukan tindakan-tindakan mungkar lain. Hal ini terjadi karena tabiat yang hina atau hati yang sempit.

2. Kehilangan kekuasaan. Hal ini dapat merusak kualitas akhlak mulia dan mempersempit hati lapang. Barangkali hal ini dilatarbelakangi oleh penyesalan berlebihan akibat jauh dari kekuasaan atau karena kurangnya kesabaran dalam jiwa.

3. Kekayaan. Ia berpotensi untuk mengubah jiwa yang lembut menjadi sosok keras dan dapat memperburuk perilaku yang telah buruk.

4. Kemiskinan. Ia dapat memengaruhi kualitas akhlak mulia karena dua alasan, yaitu karena dapat menimbulkan kesombongan merasa paling hina di dunia atau karena membuatnya menyesal karena tidak memiliki harta.

5. Kepedihan dan penderitaan. Hal ini dapat mengacaukan jiwa dan mengguncangkan hati hingga membuat seseorang tidak mampu menghadapi badai cobaan dan tidak kuat bersabar terlalu lama. Ada pepatah menyebutkan, “al-hammu kas-summi” Artinya kepedihan itu bagaikan racun.

6. Penyakit. Sesuatu yang dapat mengubah keadaan fisik juga dapat mengubah tabiat. Akhlak mulia juga mungkin tidak dapat berdiri tegap dan tetap sebagaimana mestinya hingga ia tidak mampu membendung cobaan yang datang.

7. Umur yang bertambah. Tanda-tanda penuaan pada diri seseorang dapat memengaruhi kualitas akhlak seseorang. Pertambahan umur ini dapat melemahkan kekuatan anggota tubuh, kemudian juga dapat melemahkan kekuatan jiwa yang sebelumnya selalu menopang diri dari beratnya cobaan hidup.

Ketujuh hal di atas merupakan faktor yang dapat melemahkan kinerja akhlak mulia secara umum. Adapun secara khusus, faktor yang dapat melemahkan akhlak mulia seseorang adalah kebencian yang menyebabkan manusia lari dari seseorang dan membencinya.

Keadaan tidak menyenangkan ini mendorongnya berkelakuan tidak terpuji yang kemudian menjadi karakter khusus bagi pribadinya.

Bila perilaku tercela timbul karena faktor-faktor tersebut, cara mengobatinya adalah dengan menghilangkan faktor yang ada itu kemudian dilakukan terapi untuk membiasakan diri berperilaku dengan akhlak mulia.
SAUDARAKU, JANGAN LAGI MENCELA WAKTU 
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=159896057487185&set=a.127942884015836.35252.118947841582007&type=1
Rabu, 8 dZulhijjah 1433 / 24 Oktober 2012


"Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu?", ujar seseorang ketika kalah bertanding futsal.

"Bulan Suro, bulan penuh petaka!", kata seseorang yang sering menaruh sial pada bulan Suro ketika ia dapati berbagai musibah.

Bolehkah mencela waktu seperti itu?

Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman :

”Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24)

Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.

Dalam Shahih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ’larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam.

Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengekuarka pelakunya dari Islam).

***
Mencela Waktu Terbagi Menjadi Tiga Macam

Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid berikut :

#Pertama
Jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, ”Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya.

Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ’alaihis salam : ”Ini adalah hari yang amat sulit." (QS. Hud [11] : 77)

#Kedua
Jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar.

Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.

#Ketiga
Jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik.

Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan.

Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung.

- Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas -

***
Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang.

Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela.

Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.

”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)

Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini dari murka-Nya.

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

Senin, 22 Oktober 2012


Tafakur Umur

Selasa, 7 dZulhijjah 1433 / 23 Oktober 2012

Tafakur Umur



Oleh: Ina Salma Febriani  
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya.” 

“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Fathir: 11).

Dalam ayat di atas, Allah SWT memberi penegasan bahwa hidup manusia di dunia adalah suatu proses panjang yang sudah tertulis dan diabadikan dalam lauh mahfudz. Dari proses penciptaan, lahirnya ke dunia, tumbuh dewasa hingga menunggu kapan panggilan-Nya menyapa.

Dalam tiap fase kehidupan itulah Allah menganugerahkan fasilitas gratis yaitu umur yang nilainya takkan sebanding dengan apa pun. Terlebih jika umur itu dikerahkan untuk melakukan hal-hal terbaik untuk Allah juga sesama guna menghadapi pertemuan dengan-Nya kelak.

Pertemuan dengan Allah diawali dengan berakhirnya jatah usia manusia di alam dunia. Sebagaimana kita tahu, kematian tidak dapat dipercepat apalagi ditangguhkan. Sejauh apa pun kaki melangkah, setinggi apapun benteng tempat persembunyian, seterpencil manapun kita hijrah ke suatu negeri, tetap ada fase kehidupan yang tidak bisa kita hindari; kematian. 

Kematian bak final dari setiap perlombaan yang kita ikuti selama di dunia—hanya saja, perlombaan untuk berbuat hasanah atau maksiat—itu diserahkan sepenuhnya kepada hamba itu sendiri. Sebab hidup ialah memilih. Jalan mana yang semestinya kita pilih, harus dipertimbangkan secara matang agar penyesalan tidak timbul di kemudian hari.

Sejatinya, setiap insan ‘tahu’ bahwa dirinya akan mati dan kembali kehadirat Ilahi Rabbi, namun amat disayangkan, bekal untuk menghadapi sesuatu yang amat besar itu sering diabaikan. Persiapan menghadapi kehidupan yang sebenarnya perlu disiapkan dengan berbagai amalan yang berbuah pahala dan ridha Allah, tanpa perlu menyampingkan kewajiban-kewajiban duniawi.

“Orang yang terbaik di antara kamu bukanlah orang yang meninggalkan dunianya untuk akhirat dan yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya. Sesungguhnya, dunia ini ialah bekal ke akhirat dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia.” (HR Ibnu Asakir)

“Perbanyak mengingat kematian,” begitu Rasulullah SAW memberikan anjuran kepada umatnya. Sebab, dengan mengingat kematian, kikislah perasaan tamak terhadap harta, tahta, dan cinta yang berlebih kepada sesama. Kesadaran penuh akan makna kematian, jika sudah menusuk ke relung hati, juga akan menghadirkan perasaan cukup (qanaah) dan penyerahan diri secara total kepada Allah (tawakal).

Jika kita sepakat bahwa semua milik Allah (Inna Lillah) serta semua akan kembali kepada Allah (Ilaihi Raji’un), maka nampaknya sudah jelas tugas kita di dunia. Rezeki, kematian, jodoh, semua sudah dirancang sedemikian rapi oleh Allah, namun dengan tetap berikhtiar kepada-Nya. 

Kalau kita mau berpikir jernih, sebenarnya tidak ada takdir buruk untuk manusia, yang ada hanyalah manusia itu sendiri yang belum melihat sisi baik dari setiap cobaan dalam tahap-tahap kehidupan. Juga tidak ada takdir yang tidak sejalan antara apa yang ditetapkan Allah dengan apa yang kita inginkan. 

Jika umur adalah amanah Allah, maka Allah jualah yang akan mengambil titipannya—sesuai waktu yang masih menjadi rahasia-Nya. Tetapkan rasa syukur jika mendapatkan apa yang kita kehendaki, dibarengi dengan rasa sabar jika apa yang kita kehendaki, belumlah Dia wujudkan hingga saat ini. Dengan syukur dan sabar, maka hidup semakin berarti. Wallahu a’lam.

Penyebab Terhalangnya Hujan

Tuesday, 7 dZulhijjah 1433 / 23 October 2012
Penyebab Terhalangnya Hujan



Oleh: Imam Nur Suharno
Sekitar satu tahun tidak turun hujan, Bani Israil dilanda bencana yang teramat sangat. Tak hanya kekeringan, tapi juga berbagai penyakit menyerang. Mereka meminta kepada Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah supaya menurunkan hujan.

Nabi Musa kemudian mengumpulkan semua penduduk di tanah lapang dan mengajak mereka berdoa bersama. “Wahai Tuhan penguasa hujan, turunkanlah hujan.” 

Namun, hujan tidak juga turun. Mereka berdoa kembali, “Wahai Tuhan penguasa hujan, turunkanlah hujan.” Musa kemudian berkata, “Ya Allah, biasanya Engkau selalu mengabulkan permohonan kami, mengapa kali ini hujan tidak kunjung turun?”

Allah menjawab, “Musa, hujan tidak turun karena di antara kalian ada orang yang bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun. Karena keburukan maksiatnya, Aku mengharamkan hujan dari langit untuk kalian semua.”

Allah kemudian memerintahkan supaya orang itu dikeluarkan dari daerah tersebut. Musa pun berkata kepada kaumnya, “Saudara-saudaraku Bani Israil, aku bersumpah bahwa di antara kita ada orang yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun. Akibat perbuatannya itu, Allah tidak menurunkan hujan untuk kita. Hujan tidak akan turun hingga orang itu pergi. Maka, usir orang itu dari sini.”

Orang yang ahli maksiat itu pun sadar. Kemudian, ia melihat sekelilingnya, berharap ada orang lain yang melangkah pergi. Namun, tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Ia berdoa, “Ya Allah, aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Aku mohon Engkau menutupi aibku. Jika sekarang aku pergi, pasti dilecehkan dan dipermalukan. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Terimalah taubatku dan tutupi aibku ini.”

Belum sempat meninggalkan tempat, hujan pun turun. Nabi Musa terkejut atas hal ini. “Ya Allah, hujan telah turun padahal tak seorang pun dari kami yang pergi.”

Allah berfirman, “Musa, hujan turun karena Aku gembira, hamba-Ku yang bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun itu telah bertaubat.” 

Atas hal ini, Musa pun memohon kepada Allah agar menunjukkan orang yang dimaksud itu kepadanya, sehingga dia bisa menyampaikan kabar gembira tersebut. Allah menjawab, “Musa, ia bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun, dan semuanya Kurahasiakan. Mungkinkah setelah sekarang ia bertaubat, Aku akan mempermalukannya?”

Kisah tersebut di atas memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita bahwa kemaksiatan atau dosa yang dilakukan oleh segelintar orang dapat menghalangi terkabulnya doa, termasuk ditahannya hujan dari langit. Begitulah pengaruh buruk dari berbuat maksiat.

Pengaruh buruk itu, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, antara lain, dapat menghalangi turunnya rezeki, menjauhkan pelakunya dengan orang baik, menyulitkan urusan, melemahkan hati, memperpendek umur, merusak akal, hilangnya rasa malu, berkurangnya nikmat, dan mendatangkan azab. 

Karena itu, agar hujan tidak terhalang, selain dengan shalat Istisqa, hendaknya dibarengi dengan memperbanyak istighfar dan bertaubat. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud [11]: 52). Wallahu a'lam.

Minggu, 21 Oktober 2012


Nama dan Nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa nama, yaitu:
  • Muhammad
  • Ahmad
  • Al Mahi
  • Al ‘Aqib
  • Al Hasyir
  • Al Muqaffi
  • Nabiyyur Rahmah
  • Nabiyyut Taubah
  • Khataman Nabiyyin
  • Abdullah
Dalilnya, Allah Ta’ala berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Ahzab: 40)
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
“Dan bahwasanya tatkala Abdullah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya” (QS. Maryam: 30)
Hadits Jabir bin Math’am,
إن لي أسماء : أنا محمد ، وأنا أحمد ، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر ، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي ، وأنا العاقب
“Aku memiliki beberapa nama: Muhammad, Ahmad, Al Mahi (penghapus) karena denganku Allah menghapus kekufuran, Al Hasyir karena manusia di kumpulkan di atas telapak kakiku, dan Al ‘Aqib” (HR. Bukhari 4896, Muslim 2354)
Juga hadits Abu Musa Al ‘Asy-ari,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسمي لنا أسماء . فقال ” أنا محمد ، وأحمد ، والمقفي ، والحاشر ، ونبي التوبة ، ونبي الرحمة “
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberitahu kepada kami nama-nama beliau. Beliau bersabda: ‘Aku Muhammad, Ahmad, Al Muqaffi, Al Hasyir, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyut Taubah‘” (HR. Muslim 2355).
Adapun kun-yah beliau adalah Abul Qasim, karena salah satu anak beliau bernama Al Qasim. Ini ditunjukkan oleh banyak hadits diantaranya:
سَمُّوْا باسمي ولا تَكَنَّوْا بكنيتي ، فإني أنا أبو القاسمِ
“Silakan memberi nama dengan namaku, namun jangan ber-kun-yah dengan kun-yah-ku. Kun-yah-ku adalah Abul Qasim” (HR. Bukhari 3114, Muslim 2133)
Ini adalah nama-nama beliau yang ditunjukkan secara sharih (lugas) oleh dalil-dalil. Namun banyak diantara para ulama juga menambahkan nama-nama lain untuk beliau, yang diambil dari setiap sifat yang dinisbatkan kepada beliau. Sebagaimana perkataan Imam Al Baihaqi : “Sebagian ulama menambahkan, mereka mengatakan bahwa Allah telah menyebut beliau dengan sebutan:
  • Rasul
  • Nabi
  • Ummiy
  • Syaahid
  • Mubasyir
  • Da’i ilallah bi idznihi
  • Sirajun Munir
  • Ra’ufur Rahim
  • Mudzakkir
  • Allah juga menjadikannya sebagai Rahmah, Ni’mah, dan Haadi“
Dan sebenarnya masih banyak lagi sifat-sifat beliau jika kita ingin memasukkannya ke dalam deretan nama beliau, diantaranya ash shadiq, al mashduq, sayyidu waladi adam, sayyidul mursalin, al amin, al musthafa, dan banyak lagi. Oleh karena itu para ulama berselisih pendapat mengenai jumlah nama beliau.
Adapun pendapat sebagian ulama bahwa Yaasin dan Thaha adalah termasuk nama beliau, ini dilandasi oleh sebuah riwayat:
إِنَّ لِي عِنْدَ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَشْرَةَ أَسْمَاءٍ» قَالَ: أَبُو الطُّفَيْلِ: قَدْ حَفِظْتُ مِنْهَا ثَمَانِيَةً: مُحَمَّدٌ , وَأَحْمَدُ , وَأَبُو الْقَاسِمِ , وَالْفَاتِحُ , وَالْخَاتَمُ , وَالْمَاحِي , وَالْعَاقِبُ , وَالْحَاشِرُ قَالَ أَبُو يَحْيَى التَّيْمِيُّ: وَزَعَمَ سَيْفٌ أَنَّ أَبَا جَعْفَرٍ قَالَ لَهُ: إِنَّ الِاسْمَيْنِ الْبَاقِيَيْنِ: طَهْ , وَيَاسِينُ
“Di sisi Rabb-ku Azza Wa Jall aku memiliki 10 nama (Abu Thufail -rawi hadits- mengatakan, aku hanya hafal 8) yaitu, Muhammad, Ahmad, Abul Qasim, Al Fatih, Al Khatam, Al Mahi, Al ‘Aqib, Al Hasyir.
Abu Yahya At Taimi berkata: Saif (bin Wahb) mengklaim bahwa Abu Ja’far berkata kepadanya: ‘Dua nama yang tersisa adalah Thaha dan Yasin’”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al Ajurri dalam kitab Asy Syari’ah no.1015)
Sanad hadits ini lemah karena ada perawi bernama Saif bin Wahb dan Abu Yahya At Taimi (Isma’il bin Ibrahim) yang keduanya berstatus dhaif (Al Mizan 3645, At Tahdzib 518). Sehingga status hadits ini adalah lemah. Sebagaimana Ibnu ‘Adi mendhaifkan hadits ini dalam Al Kamil (4/509), Al ‘Iraqi mendhaifkan hadits ini dalam Takhrij Al Ihya (2/471). Dengan demikian kita tidak bisa mengatakan  bahwa Yaasin dan Thaha adalah termasuk nama beliau.
Adapun nasab, beliau adalah anak dari Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Sampai disini, tidak ada perbedaan diantara para ulama. Adnan dipastikan merupakan keturunan Nabi Isma’il, namun para ulama berselisih pendapat mengenai silsilah nasab dari Adnan hingga Nabi Isma’il.
Seluruh orang arab dari negeri Hijaz memiliki keterkaitan dengan nasab beliau tersebut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قَوْلِهِ: {إِلَّا المَوَدَّةَ فِي القُرْبَى} [الشورى: 23]- فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: قُرْبَى آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: عَجِلْتَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ بَطْنٌ مِنْ قُرَيْشٍ، إِلَّا كَانَ لَهُ فِيهِمْ قَرَابَةٌ، فَقَالَ: «إِلَّا أَنْ تَصِلُوا مَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ مِنَ القَرَابَةِ»
“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma, ketika beliau ditanya mengenai ayat ‘kecuali kasih sayang dalam qurbaa (kekerabatan)‘. Sa’id bin Jubair menafsirkan qurbaa maknanya ‘keluarga Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam‘. Ibnu Abbas berkata: ‘Engkau terburu-buru dalam menafsirkan. Karena sesungguhnya antara tidak ada keturunan orang quraisy kecuali ia memiliki kekerabatan dengan beliau. Maknanya adalah: ‘kecuali adanya keterkaitan antara aku dan kalian dalam kekerabatan‘” (HR. Bukhari 4818)
Nasab beliau tersebut adalah nasab yang baik, dari awal hingga akhirnya, tidak ada sedikitpun terdapat kebejatan padanya. Sebagaimana diriwayatkan secara mursal dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :
خرجت من نكاح ، و لم أخرج من سفاح ، من لدن آدم إلى أن ولدني أبي و أمي ، لم يصبني من سفاح الجاهلية شيء
“Aku lahir dari pernikahan dan tidaklah Aku dilahirkan dari perzinaan. Mulai dari Nabi Adam sampai pada ayah ibuku. Tidak ada kebejatan Jahiliyah sedikitpun dalam nasabku” (HR. Ath Thabrani 4728, dalam Shahih Sirah Nabawiyah(1/10) Al Albani mengatakan sanadnya mursal jayyid)
Oleh karena itulah kita katakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam lahir dari nasab terbaik. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
بعثت من خير قرون ابن آدم ، قرنا فقرنا ، حتى كنت من القرن الذي كنت فيه
“Aku diutus dari keturunan bani Adam yang terbaik pada setiap kurunnya, hingga sampai pada kurun dimana aku dilahirkan” (HR. Bukhari 3557)
Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إنَّ اللهَ اصطفَى كِنانةَ من ولدِ إسماعيلَ . واصطفَى قريشًا من كنانةَ . واصطفَى من قريشٍ بني هاشمَ . واصطفاني من بني هاشمَ
“Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim” (HR. Muslim 2276)

Demikian paparan yang sedikit ini, Semoga shalawat serta salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari akhir.

Rujukan utama: Shahih Sirah Nabawiyah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

7 Nasehat Rasulullah pada Abu Dzar Al Ghifari Lawan Pemurtadan

Senin, 6 dZulhijjah 1433 / 22 Oktober 2012

 
Tabligh Akbar Untuk memberikan dukungan kepada Ustad Abu Bakar Ba'asyir

Gerakan pemurtadan di Indonesia kini telah hadir dalam pola yang sistematis dengan target-target yang terukur. Demikian disampaikan Ketua Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FPAB) Abu Al-Is. Diantaranya sudah dikembangkan sejak hadirnya gagasan Gold, Glory and Gospel di zaman penjajahan Belanda.Dari sini, gagasan sekulerisme (pemisahan agama dan negara) menjadi pintu pertama dari agenda pemurtadan terhadap Islam itu sendiri. Sementara sekulisme akhirnya melahirkan gagasan pluralisme (semua agama adalah sama).
“Gagasan ini sudah digagas oleh Samuel Zwemer untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya,” jelasnya dalam kegiatan “Tabligh Akbar Kedzaliman Densus 88 & BNPT terhadap Abubakar Ba’asyir” di Masjid Al Hikmah, Bekasi, Ahad (21/10/2012)
Menurut Abu Al-Is Kekuatan pemurtadan di Indonesia kita telah menguasai semua sektor. Baik pendidikan, ekonomi, militer hingga mendominasi ke peta perpolitikan nasional. Penangkapan terhadap Ustad Abu menurutnya adalah salah satu agenda pemurtadan.
Di mana dengan ditangkapnya tokoh-tokoh yang menjadi rujukan penting dalam perjuangan syariat diharapkan akan melemahkan perjuangan umat dalam menghadapi kekuatan pemurtadan itu. Pemurtadan itu sendiri bukan hanya pada gerakan kristenisasi lagi, tapi juga digerakkan dengan isu sekulerisasi, liberalisme dan pluralisme agama.
Menurutnya, ada 7 perkara yang harus diingat umat Islam untuk bisa menang melawan semua agenda pemurtadan itu sendiri. Hal ini merujuk pada sebuah hadist Rasulullah yang dinasehatkan kepada Abu Dzar Al Ghifari ra dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Saad dan Ibnu Syaiba.
Yang Pertama, umat Islam harus mencintai dan mau hidup dekat dengan orang-orang miskin.
Kedua, umat Islam harus lebih bisa bersyukur dengan selalu ‘melihat ke bawah’. Maksudnya ‘melihat ke Bawah’ kita dilatih untuk selalu mengingat masih banyak saudara Muslim di belahan bumi yang lain yang hidupnya lebih susah dari kita. Di mana dari sini kita belajar lebih mengenal diri untuk tetap bersyukur dan hidup sederhana.
Ketiga, umat Islam harus selalu menyambung tali silahturahim diantara orang beriman. Tidak permusuhan terhadap orang-orang yang dzalim, ingkar kepada Allah dan Rasulullah Saw.
Keempat, umat Islam harus selalu mengucapkan La Hawla Wa La Quwwata Illah Billah. Doa ini adalah sumber dari ekspresi kenyakinan bahwa kita yakin tidak ada sumber kekuatan, pembelaan dan perlindungan atas perjuangan Islam selain semua bersumber dari Allah Subhana Wa ta’ala
Kelima, umat Islam harus berani mengatakan yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Jangan mencampuradukan yang haq dan bathil. Katakanlah yang benar walau itu menyakitkan.
Keenam, umat Islam jangan gentar dalam berjuang membela agama Allah. Jangan mundur dari medan penegakan syariat Islam apapun ancamannya. Yakinlah jika melangkah di jalan Allah, akan selalu berjalan dalam perlindungan dan cinta kasihNya.
Ketujuh, umat Islam jangan menggantungkan hidup, harapan dan kekuatan kepada selain Allah. Kebergantungan kepada selain Allah adalah sangat lemah. Tidak ada tempat terbaik untuk menggantungkan ikhtiar dan doa memperjuangan tegaknya syariat Allah selain hanya kepada Allah semata.* [www.globalmuslim.web.id]

Panduan Amalan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
khoirunnisa-syahidah.blogspot.com - Kita kini berada dalam rangkaian sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijah. Sepuluh hari yang agung. Allah SWT, Rasulullah SAW, dan seluruh kaum muslimin memuliakannya. Syariat memerintahkan umat Islam untuk menyemarakkannya dengan berbagai amal shalih yang istimewa.
Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah memiliki keutamaan yang agung dalam syariat. Di antaranya adalah:
  1. Allah SWT bersumpah dengannya. Allah berfirman, ( وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ )
    “Demi waktu fajar. Dan demi sepuluh malam.” (QS. Al-Fajr (89): 1-2) Makna sepuluh malam dalam ayat yang mulia ini adalah sepuluh malam yang pertama dalam bulan Dzulhijah, menurut mayoritas ulama tafsir, dan inilah pendapat yang benar menurut penelitian imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi.
  2. Ia merupakan hari-hari yang disyariatkan secara khusus untuk memperbanyak dzikir. Allah berfirman (yang artinya),
    “Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Haj (22): 28)
    Menurut mayoritas ulama tafsir, termasuk di antaranya sahabat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas RA, maksud dari menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah.
  3. Rasulullah SAW bersaksi bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hari-hari di dunia yang paling mulia.
    Dari Jabir RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari di dunia yang paling utama adalah sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijah).” Para sahabat bertanya, “Hari-hari yang dipergunakan (jihad) di jalan Allah juga tidak menandinginya?” Beliau menjawab, “Hari-hari yang dipergunakan di jalan Allah juga tidak mampu menandinginya, kecuali seseorang yang wajahnya terjerembab di dalam debu (gugur di medan jihad hingga wajahnya beralaskan tanah).” (HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)
  4. Hari Arafah.
    Wuquf di Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah setiap tahun. Hari wuquf di Arafah adalah hari yang sangat agung. Pada saat tersebut Allah mengabulkan doa, mengampuni dosa, menerima taubat, dan membebaskan hamba-hamba yang diridhai-Nya dari siksa api neraka. Begitu agungnya hari tersebut, sehingga Rasulullah SAW bersabda, “Haji adalah (wuquf di) Arafah.”(HR. Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits shahih)
  5. Hari penyembelihan.
    Hari penyembelihan atau biasa disebut yaum an-nahr dan idul Adha, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah setiap tahun. Ia merupakan hari raya seluruh umat Islam, dan bagi para jama’ah haji merupakan salah satu rangkaian manasik haji yang sangat penting. Sebagian ulama bahkan berpendapat hari tersebut merupakan hari paling mulia dalam satu tahun, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Qurth RA bahwasanya Nabi SAW bersabda,
    أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
    “Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan dan hari sesudahnya.” (HR. Ahmad, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ath-Thabarani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Abu Nu’aim al-Asbahani. Dinyatakan shahih oleh Al-Arnauth dan Al-Albani)
  6. Induk berbagai ibadah terkumpul pada hari-hari tersebut.
    Al-hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari mengatakan, “Nampaknya hal yang menyebabkan keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah berkumpulnya induk-induk ibadah pada hari-hari tersebut, yaitu shalat, shaum, sedekah, dan haji. Hal itu tidak mungkin terkumpul pada hari-hari yang lain.”

Keutamaan amal shalih pada sepuluh hari pertama Dzulhijah
Terdapat beberapa hadits shahih yang menerangkan keutamaan amal shalih pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah. Di antaranya adalah:
عَنْ  ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” ” مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ ” ” ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ الله ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” ” وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ “
Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal shalih pada waktu tersebut lebih dicintai Allah melebihi hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijah ini).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan membawa sesuatu pun (ia gugur di jalan Allah).” (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
عَنْ  عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَذُكِرَتِ الْأَعْمَالُ ، فَقَالَ : ” مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِنَّ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ ” قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ قَالَ : فَأَكْبَرَهُ فَقَالَ : ” وَلَا الْجِهَادُ ، إِلَّا أَنْ يَخْرُجَ رَجُلٌ بِنَفْسِهِ ، وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ ، ثُمَّ تَكُونَ  مُهْجَةُ نَفْسِهِ فِيهِ “
Dari Abdullah bin Amru bin Ash RA berkata: “Saya tengah berada di sisi Rasulullah SAW lalu disebutkan beberapa amal shalih, maka beliau SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal shalih pada waktu tersebut lebih mulia daripada hari-hari sepuluh (bulan Dzulhijah ini).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga amalan jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berperang di jalan Allah dengan nyawa dan hartanya, kemudian ia gugur di jalan Allah.” (HR. Ahmad, Ath-Thahawi, dan Abu Nu’aim al-Asbhani. Dinyatakan shahih oleh muhaqqiq Hilyatul Awliya’ dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Imam At-Tirmidzi menyatakan terdapat hadits dengan lafal yang serupa dari jalur Abu Hurairah dan Jabir bin Abdullah RA. Kedua hadits di atas dan hadits-hadits penguatnya menunjukkan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam:
  • Amal shalih apapun lebih dicintai oleh Allah jika dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, melebihi cinta Allah apabila amal shalih tersebut dikerjakan di hari-hari yang lain.
  • Karena amal shalih yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah, maka hal itu bermakna ama tersebut lebih mulia dan lebih utama di sisi Allah.
  • Orang yang beramal shalih pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih utama daripada orang yang berjihad dengan nyawa dan hartanya di hari-hari yang lain lalu ia bisa kembali kepada keluarganya dengan selamat.
  • Semua amal shalih pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, tanpa terkecuali, akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT.
Sungguh sebuah bazar amal yang sangat menguntungkan bagi setiap muslim.

Amalan-amalan yang sangat dianjurkan dalam sepuluh hari pertama Dzulhijah
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah musim kebaikan. Sudah selayaknya setiap muslim memberikan perhatian yang lebih terhadapnya. Sudah sewajarnya setiap muslim meningkatkan amal shalihnya pada waktu tersebut, melebihi amal shalihnya pada waktu yang lain. Seorang ulama tabi’in, Abu Utsman Abdurrahman bin Mull an-Nahdi (wafat tahun 95 H) berkata, “Generasi salaf (sahabat) sangat memuliakan puluhan hari yang tiga; sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama Dzulhijah, dan sepuluh hari pertama Muharram.”
Adapun amalan yang selayaknya dilakukan oleh setiap muslim yang memiliki kemampuan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah ini adalah sebagai berikut:
  1. Haji dan umrah.
    Rasulullah SAW bersabda, “Satu umrah ke umrah lainnya menjadi penghapus dosa-dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal untuknya selain surga.”(HR. Bukhari dan Muslim)
    Haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan ikhlas demi meraih ridha Allah dan dikerjakan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ciri utamanya adalah keimanan, ketakwaan, dan amal shalih pelakunya setelah mengerjakan haji mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.
  2. Shaum sunnah, yaitu shaum sunnah antara tanggal 1-9 Dzulhijah. Minimal mengerjakan shaum sunnah Arafah tanggal 9 Dzulhijah bagi selain jama’ah haji.
    Shaum sunnah adalah amal shalih yang sangat dicintai oleh Allah. Allah bahkan menganggap Dzat-Nya sebagai pemilik khusus shaum, dan Allah sendiri yang akan memberikan balasannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah SWT berfirman, “Semua amal anak manusia untuk dirinya sendiri, kecuali shaum, karena sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Jika kita tidak mampu memperbanyak shaum sunnah pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijah ini, maka setidaknya kita melaksanakan shaum hari Arafah pada tanggal sembilan Dzulhijah. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan shaum hari Arafah,
    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
    “Shaum hari Arafah, aku mengharap Allah menghapuskan dengannya dosa satu tahun sebelumnya dan dosa satu tahun sesudahnya.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
  3. Shalat wajib lima waktu secara berjama’ah di masjid dan memperbanyak shalat sunnah.
    Sebaiknya setiap muslim menjaga pelaksanaan shalat sunnah Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tahajud, shalat Witir, shalat tahiyatul masjid, dan shalat sunnah lainnya. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari, Ibnu Majah, dan Ahmad)
  4. Tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir
    Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir pada sepuluh hari pertama Dzulhijah berdasar firman Allah SWT,
    “Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Haj (22): 28)

    Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda,
    عَنِ  ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ، وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ  التَّهْلِيلِ ، وَالتَّكْبِيرِ ، وَالتَّحْمِيدِ
    “Tiada hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal kebaikan pada hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah ini. Maka hendaklah kalian memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
    Imam Bukhari berkata, “Ibnu Umar dan Abu Hurairah RA keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah. Keduanya mengumandangkan takbir, maka orang-orang mengikuti keduanya dalam mengumandangkan takbir. Ibnu Umar juga mengumandangkan takbir dari dalam tendanya di Mina, maka jama’ah masjid yang mendengarnya ikut mengumandangkan takbir. Mendengar hal itu, orang-orang di Pasar ikut mengumandangkan takbir, sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir. Pada hari-hari tersebut, Ibnu Umar mengumandangkan takbir di Mina, setelah shalat wajib, di atas kasur, tenda, tempat duduk, dan jalan yang dilaluinya. Ia bertakbir pada seluruh hari tersebut.”
  5. Sedekah.
    Sedekah secara umum hukumnya sunnah, dan nilai kesunnahannya pada sepuluh hari pertama bulanDzulhijah ini semakin kuat. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 261)
  6. Menyembelih hewan kurban
    Di antara bentuk sedekah adalah menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikan dagingnya kepada kaum muslimin pada tanggal 10 Dzulhijah. Dari Anas bin Malik RA berkata, “Nabi SAW berkurban dengan menyembelih dua ekor domba yang berwarna putih dan bertanduk dua. Beliau membaca bismillah dan takbir, menekankan kakinya ke sisi leher domba, dan menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Selain amalan-amalan di atas, terdapat banyak amalan yang selayaknya digalakkan. Antara lain: membaca Al-Qur’an, membaca istighfar, berbakti kepada orang tua, menyambung tali kekerabatan, menyebar luaskan salam, memberikan makanan, mendamaikan dua pihak yang bersengketa, amar ma’ruf dan nahi munkar, menjaga lisan dan kemaluan, berbuat baik kepada tetangga, memuliakan tamu, memberi nafkah kepada keluarga, mengasuh anak yatim, menengok orang sakit, membantu kesulitan orang lain, menunaikan amanat, mengembalikan barang titipan, melunasi hutang, dan lain sebagainya. (Arrahmah.com/khoirunnisa-syahidah.blogspot.com)
Wallahu a’lam bish-shawab
Oleh: Muhib al-Majdi